International
Badai Salju Ekstrem Lumpuhkan Amerika Serikat hingga Picu Pemadaman Listrik dan Korban Jiwa

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnnindonesia.com Badai musim dingin yang dahsyat dan mematikan kini tengah menyapu sebagian besar wilayah Amerika Serikat, menciptakan kondisi darurat nasional yang melumpuhkan infrastruktur serta mengancam keselamatan jutaan penduduk. Sejak Sabtu (24/1), hujan salju lebat dilaporkan telah menyelimuti serangkaian negara bagian, mulai dari Kansas, Texas, Missouri, Iowa, Oklahoma, hingga Tennessee. Fenomena cuaca ekstrem ini tidak hanya membawa suhu dingin yang menusuk tulang, tetapi juga memicu krisis energi dan transportasi yang meluas.
Dampak infrastruktur yang paling terasa adalah putusnya aliran listrik secara massal. Berdasarkan data dari situs PowerOutage.us, hingga Sabtu siang, kegelapan melanda hampir seluruh penjuru negeri dengan perkiraan 130.000 pelanggan kehilangan akses listrik. Negara bagian Texas menjadi salah satu titik terparah, di mana sekitar 61.600 warganya harus bertahan hidup tanpa aliran listrik di tengah suhu yang membeku. Situasi di wilayah tenggara, Texas timur, dan Louisiana juga semakin memburuk dengan ketebalan salju yang dilaporkan telah mencapai 4 inci.

Kekacauan juga terjadi di sektor transportasi darat dan udara. Chicago & Midwest Storm Chaser melaporkan kondisi jalan raya yang sangat berbahaya, di mana banyak kendaraan tergelincir atau terjebak, khususnya di sepanjang sisi barat daya jalan raya antar negara bagian 30 dekat Little Rock. Otoritas penerbangan pun terpaksa mengambil langkah drastis dengan membatalkan hampir 14.000 penerbangan baik yang menuju, dari, maupun di dalam wilayah AS hingga hari Senin, akibat pergerakan badai yang semakin masif.
Kondisi ekstrem ini tragisnya telah merenggut nyawa. Di New York City, tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat paparan cuaca dingin yang brutal. Korban pertama, seorang pria berusia 67 tahun, ditemukan tak bernyawa di trotoar Third Avenue, Manhattan. Dua korban lainnya, seorang pria berusia 30-an dan wanita berusia 60-an, ditemukan terpisah di wilayah Brooklyn. Kematian ketiganya dikonfirmasi berkaitan langsung dengan kondisi cuaca ekstrem yang melanda kota tersebut.
Pemerintah setempat telah merespons krisis ini dengan cepat. Sebanyak 16 negara bagian, termasuk Washington DC, resmi mendeklarasikan keadaan darurat sebelum badai mencapai puncaknya. Gubernur Kentucky, Andy Beshear, memperingatkan warganya akan potensi penumpukan es dan salju hingga 15 inci, serta mendesak masyarakat untuk menghindari perjalanan yang tidak perlu. Senada dengan itu, Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, memprediksi ketebalan salju antara 3 hingga 16 inci akan menimbun kota sepanjang akhir pekan.

Badan Layanan Cuaca Nasional (NWS) Amerika Serikat mengeluarkan peringatan serius bagi sekitar 160 juta warga yang berada di jalur lintasan badai, mulai dari New Mexico hingga New England. NWS memprediksi curah salju total akan melebihi 12 inci di lembah Ohio serta wilayah Atlantik tengah dan timur laut. Ahli meteorologi NWS, Allison Santorelli, menekankan keunikan badai kali ini bukan hanya pada intensitasnya, melainkan dampak pasca-badai. Ia memperingatkan bahwa suhu akan tetap sangat dingin dalam waktu lama, menyebabkan salju dan es mencair dengan sangat lambat, yang pada akhirnya akan menghambat segala upaya pemulihan dan normalisasi aktivitas warga.







