Sports
Analisis Tajam Paul Scholes: Benarkah Arsenal Berpotensi Menjadi Juara Liga Inggris dengan Performa Terburuk?
Semarang (usmnews) – Dikutip dari liputan6.com, Kritik pedas kembali menerpa Emirates Stadium di tengah upaya Arsenal untuk mengakhiri puasa gelar Liga Inggris mereka yang sudah berlangsung sangat lama. Meskipun saat ini The Gunners masih bertengger di posisi puncak klasemen, performa anak asuh Mikel Arteta tersebut mendapatkan penilaian negatif dari legenda hidup Manchester United, Paul Scholes. Dalam sebuah diskusi di podcast “The Good, The Bad & The Football”, Scholes melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut bahwa jika Arsenal berhasil menjadi kampiun musim ini, mereka bisa saja dikenang sebagai tim terburuk dalam sejarah pemenang Premier League.
Pernyataan Scholes ini muncul bukan tanpa alasan. Arsenal memang sedang mengalami periode sulit dalam beberapa pekan terakhir. Keunggulan empat poin mereka di puncak klasemen mulai terancam menyusul kekalahan menyakitkan dari Manchester United baru-baru ini. Tren negatif ini diperparah dengan fakta bahwa tim Meriam London hanya mampu mengamankan dua poin dari kemungkinan sembilan poin dalam tiga pertandingan terakhir mereka.
Masalah Kronis di Lini Serang
Fokus utama kritik Scholes terletak pada kualitas daya gedor Arsenal yang dianggap tidak mencerminkan tim juara. Mantan gelandang legendaris Setan Merah tersebut menilai bahwa tidak ada satu pun pemain depan Arsenal yang memiliki performa cukup konsisten untuk masuk ke dalam tim terbaik musim ini. Ia membandingkan skuad Arteta dengan para peraih gelar sebelumnya, seperti Liverpool yang memiliki trio penyerang mematikan atau Manchester City yang selalu memiliki pencetak gol ulung.
Scholes bahkan memberikan catatan khusus bagi bintang muda Bukayo Saka. Meski dianggap sebagai salah satu yang terbaik di skuad saat ini, kontribusi Saka dari sisi gol dan assist dinilai belum cukup mendominasi untuk menyeret tim keluar dari masa sulit. Data statistik memang mendukung kekhawatiran ini; Bukayo Saka tercatat belum menyumbangkan gol dalam 13 pertandingan terakhirnya di semua kompetisi.
Kondisi serupa dialami oleh penyerang lainnya. Viktor Gyokeres dan Gabriel Martinelli juga sedang mengalami kemandulan yang cukup panjang dalam permainan terbuka. Martinelli, misalnya, sudah melalui 13 laga liga tanpa mencetak satu pun gol. Bahkan nama-nama pelapis seperti Leandro Trossard dan Noni Madueke pun belum mampu memberikan solusi instan bagi krisis produktivitas tim.
Ketergantungan pada Bola Mati
Kritik terhadap strategi Mikel Arteta juga datang dari sisi kreativitas. Arsenal musim ini sering kali dicap sebagai tim yang terlalu bergantung pada skema bola mati (set piece). Statistik menunjukkan bahwa mereka telah mencetak 26 gol dari situasi bola mati, angka tertinggi di antara lima liga top Eropa. Meskipun keahlian dalam sepak pojok dan tendangan bebas adalah sebuah aset, hal ini sekaligus menunjukkan kegagalan mereka dalam membongkar pertahanan lawan melalui alur permainan terbuka (open play).
Bahkan pemain lawan, seperti Amad Diallo dari Manchester United, sempat menyindir bahwa harapan terbesar Arsenal untuk mencetak gol saat ini hanyalah melalui sepak pojok. Ketergantungan ini membuat pola serangan Arsenal dianggap mulai terbaca dan kurang memiliki variasi yang menakutkan bagi bek-bek lawan di Liga Inggris.
Kesimpulan dan Tantangan Mikel Arteta
Kritik Paul Scholes ini menjadi alarm keras bagi Mikel Arteta. Memang benar bahwa pada akhirnya sejarah hanya akan mencatat siapa yang mengangkat trofi, bukan bagaimana cara mereka bermain. Namun, untuk benar-benar mengamankan gelar dari kejaran Manchester City dan Aston Villa yang sedang naik daun, Arsenal membutuhkan lebih dari sekadar keberuntungan bola mati.
Arteta harus segera menemukan cara untuk menghidupkan kembali ketajaman lini depannya. Jika tren negatif ini terus berlanjut dan produktivitas gol tidak kunjung membaik, prediksi buruk Scholes bisa jadi hanya permulaan dari kegagalan Arsenal mempertahankan posisi di puncak klasemen. Tantangan sesungguhnya bagi The Gunners adalah membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tim yang beruntung, melainkan tim dengan kualitas juara sejati yang mampu mendominasi lawan di segala aspek permainan.