Education
Analisis Riset BRIN: Faktor Pendidikan dan Budaya dalam Kegagalan Pemberian ASI Eksklusif
Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Sebuah studi mendalam yang dirilis oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fakta krusial mengenai pola asuh bayi di Indonesia, khususnya terkait pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Riset yang dipimpin oleh Yuly Astuti dari Pusat Riset Kependudukan BRIN ini menyoroti bahwa tingkat pendidikan ibu memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap keberhasilan pemberian ASI selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Temuan ini menunjukkan bahwa ibu dengan latar belakang pendidikan rendah, seperti lulusan SMP atau di bawahnya, memiliki hambatan yang jauh lebih besar dibandingkan mereka yang menempuh pendidikan tinggi.
Hambatan Pendidikan dan Status Pekerjaan
Secara statistik, hasil penelitian ini cukup mengejutkan. Ibu yang hanya menyelesaikan pendidikan di tingkat SMP memiliki risiko 8,84 kali lebih tinggi untuk tidak memberikan ASI eksklusif kepada buah hati mereka jika dibandingkan dengan ibu lulusan universitas. Hal ini mengindikasikan bahwa akses terhadap informasi kesehatan yang memadai serta pemahaman mengenai pentingnya nutrisi awal sangat dipengaruhi oleh jenjang pendidikan formal.
Selain faktor pendidikan, status pekerjaan juga menjadi determinan penting. Riset yang melibatkan 706 responden ibu di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, ini menemukan bahwa ibu yang bekerja memiliki peluang 6,45 kali lebih besar untuk gagal memberikan ASI eksklusif. Kondisi ini mencerminkan adanya hambatan struktural di dunia kerja yang mungkin belum sepenuhnya mendukung hak ibu menyusui, sehingga mereka terpaksa beralih ke susu formula atau makanan tambahan lebih awal.
Mitos Budaya dan Praktik Prelakteal
Salah satu poin paling menarik dalam studi ini adalah pengaruh kuat budaya lokal melalui praktik prelakteal, yaitu pemberian makanan atau minuman seperti madu dan air gula kepada bayi yang baru lahir sebelum ASI keluar dengan lancar. Sekitar 36,1 persen responden masih menjalankan tradisi ini karena keyakinan bahwa rasa manis akan membawa keberuntungan atau masa depan yang manis bagi sang anak. Padahal, secara medis, praktik ini meningkatkan risiko kegagalan ASI eksklusif hingga 5,67 kali lipat.
Konstruksi Gender dalam Pengasuhan
Riset ini juga menyentuh aspek sosiologis terkait gender. Ditemukan bahwa bayi laki-laki lebih berisiko tidak mendapatkan ASI eksklusif dibandingkan bayi perempuan. Yuly Astuti menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan persepsi masyarakat bahwa anak laki-laki adalah penerus garis keturunan yang harus tumbuh kuat dan besar. Akibatnya, banyak ibu merasa bahwa hanya memberikan ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anak laki-laki, sehingga mereka memberikan makanan tambahan (MPASI) jauh sebelum usia yang disarankan.
Kesimpulan dan Urgensi Intervensi
Secara keseluruhan, penelitian BRIN mencatat bahwa 58,1 persen anak dalam sampel riset tidak menerima ASI eksklusif. Angka ini menjadi alarm bagi pemerintah bahwa pemenuhan nutrisi bayi bukan sekadar masalah kemauan individu seorang ibu, melainkan masalah kompleks yang melibatkan dimensi ekonomi, tingkat pendidikan, kebijakan tempat kerja, hingga konstruksi sosial budaya. Intervensi yang strategis diperlukan, tidak hanya melalui edukasi kesehatan di puskesmas, tetapi juga dengan menyasar akar masalah sosial dan ekonomi agar setiap anak Indonesia mendapatkan hak nutrisi terbaik mereka sejak lahir.