Business

Analisis Pasar: Rupiah Tunjukkan Taring, Dolar AS Tergelincir ke Level Rp16.850

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari cnbcindonesia.com Pada perdagangan awal pekan, tepatnya Senin, 19 Januari 2026, mata uang Garuda menunjukkan performa yang impresif dengan mencatatkan penguatan signifikan terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar spot terbaru, Rupiah dibuka menguat dan berhasil menekan nilai tukar Greenback hingga turun ke level psikologis baru di angka Rp16.850 per Dolar AS. Dinamika Perdagangan Pagi, pergerakan positif ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik setelah beberapa waktu sebelumnya mata uang global mengalami volatilitas tinggi. Pembukaan pasar pada pagi hari ini langsung diwarnai dengan aksi beli Rupiah yang dominan, mencerminkan kepercayaan diri investor yang kembali pulih.

Penurunan Dolar AS ke angka Rp16.850 ini menandakan adanya apresiasi nilai tukar Rupiah yang cukup tajam jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada akhir pekan sebelumnya. Koreksi pada Dolar AS ini tidak hanya terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai sentimen pasar yang berkembang sejak sesi perdagangan sebelumnya. Faktor Eksternal: Pelemahan Indeks Dolar (DXY)Salah satu pendorong utama di balik perkasanya Rupiah adalah melemahnya posisi Dolar AS di kancah global. Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia lainnya, terpantau mengalami tekanan. Para pelaku pasar global tampaknya sedang merespons data-data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang mengindikasikan adanya perlambatan, atau mungkin spekulasi terkait arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserve) yang diprediksi akan lebih lunak (dovish).

Ketika ekspektasi suku bunga di AS menurun atau stabil, daya tarik aset berbasis Dolar cenderung berkurang. Hal ini mendorong arus modal (capital outflow) keluar dari AS dan mencari imbal hasil yang lebih menarik di negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Fenomena ini menciptakan momentum risk-on di pasar Asia, di mana investor berani mengambil risiko lebih tinggi dengan memegang aset dalam mata uang lokal. Faktor Internal: Aliran Modal Asing dan Fundamental Ekonomi, dari sisi domestik, penguatan Rupiah ke level Rp16.850 juga didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga. Sentimen positif ini kemungkinan besar didorong oleh masuknya aliran modal asing (capital inflow) yang deras ke pasar keuangan dalam negeri, baik melalui pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN).

Investor asing melihat valuasi aset di Indonesia masih sangat menarik dengan tingkat imbal hasil (yield) yang kompetitif dibandingkan negara tetangga. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang konsisten dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui strategi intervensi pasar—baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar obligasi—terbukti efektif dalam meredam gejolak dan memberikan rasa aman bagi para pelaku pasar. Prospek dan Sentimen Lanjutan, penguatan Rupiah di awal pekan ini memberikan sinyal teknikal yang positif. Jika momentum ini dapat dipertahankan hingga penutupan pasar sore nanti, ada potensi Rupiah akan menguji level resistance berikutnya yang lebih kuat.

Namun, para analis pasar tetap menyarankan kewaspadaan, mengingat situasi geopolitik global dan rilis data ekonomi AS selanjutnya masih bisa memicu volatilitas sewaktu-waktu. Secara keseluruhan, turunnya Dolar AS ke Rp16.850 bukan sekadar angka, melainkan indikasi bahwa persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia sedang membaik, didukung oleh pelemahan momentum Dolar secara global. Bagi importir, ini adalah kesempatan baik untuk melakukan pembelian valas, sementara bagi eksportir, ini menjadi sinyal untuk mengevaluasi strategi lindung nilai (hedging) mereka di tengah tren apresiasi Rupiah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version