Business

Aliansi Nikel Danantara-INCO dan Ancaman Royalti

Published

on

Jakarta (usmnews)- Danantara menggelontorkan Rp23,34 triliun untuk investasi nikel di Indonesia melalui aliansi dengan GEM Ltd. dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO). Ketiganya menggarap megaproyek hilirisasi nikel berteknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) senilai US$1,42 miliar di Sulawesi Tengah.


Danantara Investment Management menandatangani Head of Agreement dengan GEM, perusahaan metalurgi hijau asal China. CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut kemitraan ini sebagai tonggak percepatan transformasi sosial-ekonomi Indonesia lewat investasi strategis. GEM melalui anak usahanya, GEM Hong Kong International Co. Ltd., mengakuisisi 51% saham PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), sehingga kepemilikan INCO turun menjadi 49%.

Sejak Juni 2025, INCO mencatat BNSI sebagai entitas asosiasi. Di pasar saham, aksi Danantara mendorong kenaikan saham nikel. Saham NCKL melonjak 7,35% ke Rp1.095, sedangkan MDKA naik 5,02% ke Rp2.510.

Analis Mirae Asset, Nafan Aji Gusta, menilai langkah ini menjadi katalis positif bagi ekosistem kendaraan listrik dan penguatan green economy. Namun, CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet mengingatkan tantangan investasi nikel di Indonesia, mulai dari regulasi rumit, royalti progresif, hingga revisi RKAB tahunan. Ia menilai kebijakan royalti baru memberatkan industri yang tengah sulit. Jerome juga menyoroti pembangunan smelter yang terlalu masif, sehingga memicu kelebihan pasokan dan penurunan harga produk nikel.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version