Connect with us

Education

Bukan Daun Biasa, Peneliti UNDIP Bikin Baja Bebas Karat Pakai Minyak Cengkeh

Published

on

Semarang (USMNEWS) – Korosi masih menjadi tantangan besar dalam berbagai sektor industri, mulai dari infrastruktur kelautan, pembangkit energi terbarukan, hingga konstruksi logam yang terpapar udara lembap dan air laut. Kerusakan akibat karat tidak hanya memperpendek usia pakai material, tetapi juga meningkatkan biaya perawatan dan perbaikan.

Di tengah kebutuhan industri terhadap material yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan, tim peneliti dari Universitas Diponegoro mengembangkan inovasi pelapis antikorosi berbasis eugenol, senyawa alami yang berasal dari minyak daun cengkeh.

Riset tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Ngadiwiyana, S.Si., M.Si., dosen dan peneliti dari Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro. Melalui penelitian di bidang kimia organik, timnya menunjukkan bahwa eugenol dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pelapis logam yang lebih ramah lingkungan dibandingkan coating berbasis petrokimia konvensional.

“Indonesia punya keunggulan unik. Kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki bahan baku inti dalam jumlah besar,” ujar Prof. Ngadiwiyana.

Menurut beliau, daun cengkeh yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebenarnya mengandung eugenol dalam jumlah melimpah. Senyawa tersebut dapat dimodifikasi menjadi polimer berbasis biomassa yang mampu membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam.

Secara sederhana, pelapis antikorosi bekerja dengan membentuk lapisan rapat yang menghambat kontak langsung antara logam dengan air, oksigen, maupun ion garam yang memicu karat. Selama ini, banyak coating industri masih menggunakan bahan berbasis petrokimia dan pelarut organik dengan emisi volatil tinggi atau volatile organic compounds (VOC).

Melalui pendekatan berbasis bahan alami, eugenol dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengembangan coating dengan emisi lebih rendah dan lebih aman bagi lingkungan.

“Dengan sentuhan kimia yang tepat, eugenol bisa menjadi polimer pelapis yang andal, menekan ketergantungan pada petrokimia, sekaligus memberi nilai tambah pada rantai pasok di dalam negeri,” lanjut beliau.

Hasil awal penelitian menunjukkan bahwa film pelapis berbasis eugenol mampu membentuk penghalang difusi yang baik, sehingga lebih sulit ditembus air maupun ion klorida penyebab korosi. Pada pengujian di permukaan baja, lapisan tersebut juga memperlihatkan daya lekat yang stabil serta ketahanan terhadap kelembapan dan goresan.

Menurut Prof. Ngadiwiyana, penggunaan bahan baku lokal juga membuka peluang efisiensi biaya produksi sekaligus memperkuat industri kimia domestik. Daun cengkeh yang selama ini dianggap limbah perkebunan berpotensi masuk ke rantai hilirisasi industri, mulai dari proses penyulingan minyak daun cengkeh, pemurnian eugenol, hingga produksi prekursor coating.

Konteks ini dinilai relevan mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen cengkeh terbesar di dunia, namun sebagian besar komoditas masih dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah terbatas.

“Kalau hilirisasi berjalan, kita tidak hanya menjual komoditas, tetapi juga dapat menghasilkan produk antara bahkan formulasi coating siap pakai,” katanya.

Pengembangan coating berbasis eugenol dinilai memiliki prospek aplikasi yang luas, mulai dari pelindung struktur kelautan, rangka pembangkit listrik tenaga surya dan angin, tangki penyimpanan, jembatan, hingga aset industri migas.

Prof. Ngadiwiyana menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak berhenti pada skala laboratorium, tetapi diarahkan menuju teknologi yang realistis untuk kebutuhan industri.

“Target kami adalah teknologi yang realistis: performa terukur, bahan baku pasti, dan proses yang dapat di-scale up,” ujarnya.

Beliau menambahkan, dukungan kebijakan pemerintah, standardisasi nasional, serta uji coba pada infrastruktur industri akan menjadi faktor penting untuk mempercepat penerapan coating berbasis eugenol di Indonesia.

Menurutnya, pengembangan material berbasis biomassa lokal dapat menjadi bagian penting dalam mendukung industri berkelanjutan dan transisi energi bersih di masa depan.

“Pelapis berbasis eugenol tidak hanya melindungi baja, tetapi juga berpotensi membuka lapangan kerja baru dan membantu menekan jejak karbon industri,” pungkas Prof. Ngadiwiyana.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *