International
Badai Salju Ekstrem di Jepang: Ribuan Penumpang Terisolasi dan Terpaksa Menginap di Bandara New Chitose

Semarang ( usmnews ) – Dikutip dari Detik.com Wilayah utara Jepang, khususnya Prefektur Hokkaido, baru-baru ini didera oleh fenomena cuaca ekstrem berupa hujan salju lebat yang mencapai level membahayakan. Situasi ini mengakibatkan kelumpuhan total pada berbagai sektor transportasi, yang paling mencolok adalah terjebaknya ribuan orang di Bandara New Chitose.
Berdasarkan laporan yang dihimpun hingga akhir Januari 2026, sekitar 7.000 orang terpaksa bermalam di terminal bandara karena tidak ada satu pun moda transportasi yang dapat beroperasi untuk membawa mereka keluar dari kawasan tersebut.Kondisi ini dipicu oleh curah salju yang memecahkan rekor sejarah. Badan Meteorologi Jepang melalui Kantor Pusat Regional Sapporo mencatat bahwa ketebalan salju di distrik Chuo, Sapporo, mencapai 64 cm dalam waktu singkat, yakni hanya dalam kurun waktu 48 jam hingga Senin pagi.
Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak pengumpulan data dimulai pada tahun 1999. Salju yang turun begitu cepat dan masif membuat petugas pembersih jalanan dan rel kereta api tidak mampu mengimbangi laju tumpukan es, sehingga otoritas setempat terpaksa mengambil keputusan untuk menutup total akses publik.

Lumpuhnya transportasi darat menjadi penyebab utama ribuan turis telantar. Meskipun beberapa penerbangan masih diupayakan beroperasi, penumpang yang baru mendarat justru terjebak di bandara karena layanan kereta cepat “Airport” yang menghubungkan Bandara New Chitose dengan pusat kota Sapporo dihentikan sepenuhnya. Tercatat lebih dari 500 layanan kereta api dibatalkan dalam satu hari saja.
Tak hanya kereta, jalan tol utama yang mengarah ke ibu kota Hokkaido tersebut juga ditutup bagi kendaraan pribadi maupun bus karena jarak pandang yang buruk dan permukaan jalan yang sangat licin.Di media sosial, situasi di dalam Bandara New Chitose digambarkan sangat mencekam dan penuh sesak. Banyak pelancong, yang sebagian besar merupakan turis mancanegara yang hendak berwisata ski, membagikan momen saat mereka harus tidur di lantai bandara dengan fasilitas seadanya.

Mereka menyebut situasi ini sebagai “level bencana” karena kepadatan manusia yang luar biasa di dalam gedung terminal.Kekacauan ini tidak hanya terbatas di area bandara. Di pusat kota Sapporo, ratusan orang juga dilaporkan telantar. Karena hotel-hotel sudah penuh dan transportasi lokal tidak berfungsi, pemerintah kota Sapporo terpaksa membuka lorong bawah tanah “Chikaho” sebagai tempat pengungsian sementara.
Otoritas setempat membagikan lebih dari 1.000 selimut kepada para warga dan turis yang terjebak di bawah tanah agar mereka tidak terserang hipotermia di tengah suhu dingin yang menggigit. Hingga saat ini, proses pembersihan salju masih terus dilakukan secara masif, namun cuaca yang belum sepenuhnya stabil membuat jadwal pemulihan transportasi masih sulit diprediksi secara pasti.







