Nasional
Ancaman Geopolitik Global: Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Terpuruk ke Level Rp17.100

Semarang (usmnews) – Dikutip Sindo.news Kondisi ekonomi dan stabilitas mata uang Indonesia sedang berada dalam bayang-bayang kekhawatiran besar. Berdasarkan pengamatan pasar terkini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan mengalami tekanan yang sangat berat pada pekan depan. Tidak tanggung-tanggung, mata uang Garuda diprediksi berpotensi menembus level psikologis baru yang cukup mengkhawatirkan, yakni di angka Rp17.100 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang dan komoditas terkemuka, memberikan analisisnya mengenai situasi ini. Menurutnya, pergerakan rupiah akan sangat fluktuatif akibat akumulasi berbagai sentimen global yang kian memanas. Secara teknikal, Ibrahim menjelaskan bahwa jika tren pelemahan terus berlanjut, target penurunan pertama akan menyentuh angka Rp16.920. Namun, mengingat eskalasi konflik di berbagai belahan dunia, risiko untuk merosot lebih dalam ke level Rp17.100 sangat terbuka lebar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa langkah-langkah intervensi yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia maupun berbagai kebijakan fiskal dari pemerintah pusat tampaknya belum cukup kuat untuk menahan laju depresiasi rupiah. Gejolak eksternal yang terjadi saat ini dinilai terlalu masif sehingga efek kebijakan domestik menjadi terbatas.
Setidaknya ada lima faktor krusial yang diidentifikasi sebagai pemicu utama keguncangan pasar ini:

- Perang Dagang Uni Eropa dan China: Uni Eropa mulai menerapkan kebijakan proteksionisme yang keras dengan mengenakan bea masuk dumping terhadap produk alumina asal China. Besaran tarif yang dikenakan sangat tinggi, berkisar antara 88,7 persen hingga 110,6 persen, yang memicu ketegangan perdagangan global.
- Ketegangan AS dan Eropa: Hubungan antara Amerika Serikat dan sekutu Eropanya juga memanas. AS mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 20 persen bagi produk-produk Eropa terkait dengan sengketa wilayah Greenland.
- Ketidakpastian Politik Internal AS: Stabilitas politik di Amerika Serikat sedang goyah. Adanya pemanggilan Jerome Powell (Ketua The Fed) oleh Jaksa Agung serta kisruh internal di lingkaran pemerintahan Donald Trump akibat pemecatan beberapa pejabat penting telah menciptakan sentimen negatif di pasar finansial.
- Konflik Rusia-Ukraina yang Memanas: Perang di Eropa Timur menunjukkan tanda-tanda eskalasi yang meningkat, yang secara otomatis memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan komoditas global.
- Krisis di Timur Tengah: Situasi di Iran kian genting dengan adanya penutupan wilayah udara dan pergerakan armada tempur AS, termasuk kapal induk Abraham Lincoln, ke kawasan tersebut. Hal ini meningkatkan risiko gangguan pada jalur perdagangan minyak dunia.
Kombinasi dari krisis geopolitik, perang dagang, dan ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat membuat investor cenderung menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia dan beralih ke aset aman (safe haven). Jika kondisi ini tidak segera mereda, tekanan terhadap rupiah dipastikan akan semakin tajam dalam beberapa waktu ke depan. Masyarakat dan pelaku usaha diharapkan waspada terhadap potensi lonjakan harga barang impor akibat melemahnya daya beli rupiah di pasar internasional.







