Lifestyle
Mispersepsi Peran Susu, Mengapa Susu Hanya Pelengkap, Bukan Pengganti Makanan Utama Anak

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Sering kali terdapat anggapan keliru di kalangan orang tua yang merasa tenang asalkan anaknya sudah minum susu, meskipun anak tersebut menolak makan nasi atau lauk pauk. Menanggapi fenomena ini, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, seorang Ahli Gizi dari Asosiasi Ahli Gizi Olahraga Indonesia (ISNA), memberikan peringatan tegas: susu tidak boleh diposisikan sebagai pengganti makanan utama.
Posisi Susu dalam Piramida Makanan Anak
Dr. Rita menekankan bahwa fungsi hakiki dari susu adalah sebagai pelengkap atau penyempurna (komplementer), bukan fondasi utama gizi. Susu memang memiliki kandungan protein dan kalsium yang baik, sehingga sangat cocok dikonsumsi sebagai bagian dari sarapan atau sebagai camilan di sela-sela waktu makan (interlude). Namun, orang tua memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan bahwa pada jam makan utama (pagi, siang, dan malam), anak tetap mengonsumsi makanan padat yang lengkap dan bergizi seimbang.
Meskipun anak mungkin lebih menyukai rasa susu yang manis dan gurih, orang tua tidak boleh menyerah pada preferensi tersebut dengan membiarkan susu menggantikan porsi makan besar mereka.

Risiko Gizi dan Kesehatan Pencernaan
Mengapa susu tidak bisa menggantikan sepiring makanan lengkap? Dr. Rita menjabarkan risiko kesehatan yang mengintai jika anak hanya bergantung pada susu sebagai sumber nutrisi tunggal:
- Defisiensi Karbohidrat Kompleks: Susu tidak menyediakan karbohidrat kompleks yang dibutuhkan anak sebagai sumber energi tahan lama untuk beraktivitas.
- Nihil Serat: Susu adalah cairan yang tidak mengandung serat. Padahal, serat sangat krusial untuk kesehatan usus dan mencegah sembelit.
- Ketimpangan Nutrisi: Mengandalkan susu saja akan menyebabkan ketidakseimbangan antara asupan karbohidrat, protein, lemak, serta mikronutrien lainnya.
- Gangguan Fungsi Pencernaan: Tubuh manusia didesain untuk mencerna makanan padat. Jika pencernaan anak terus-menerus dimanjakan dengan makanan cair, proses stimulasi gerak peristaltik usus dan pembentukan sistem cerna yang optimal bisa terhambat. Makanan padat diperlukan untuk melatih organ pencernaan bekerja sebagaimana mestinya.
Peran Vital Orang Tua dalam Membentuk Kebiasaan
Sebagai akademisi di Universitas Faletehan, Dr. Rita juga menyoroti aspek perilaku. Masa kanak-kanak adalah periode emas pembentukan pola makan (food habits). Kebiasaan yang terbentuk saat ini akan terbawa hingga dewasa. Oleh karena itu, orang tua harus berperan aktif sebagai role model dan pengambil keputusan.

Menghadapi anak yang “gerakan tutup mulut” (GTM) dan hanya mau minum susu memang menantang, namun Dr. Rita menyarankan beberapa strategi cerdas agar gizi anak tetap terpenuhi tanpa harus bertengkar di meja makan:
- Negosiasi Menu: Libatkan anak dalam menyepakati menu makanan agar mereka merasa memiliki kontrol.
- Modifikasi Cerdas: Sesuaikan rasa dan tekstur makanan dengan selera anak, namun tetap pastikan komposisi gizinya lengkap.
- Prioritas Makanan Padat: Selalu berikan makanan utama terlebih dahulu saat anak lapar. Jangan berikan susu saat perut kosong mendekati jam makan.
- Susu sebagai Penutup Celah: Jadikan susu sebagai strategi untuk menambal kekurangan. Misalnya, jika menu makan siang kurang protein atau kalsium, barulah susu diberikan saat jam camilan sore sebagai pelengkap.
Kesimpulan
Inti dari pesan Dr. Rita adalah keseimbangan dan prioritas. Susu adalah sahabat gizi yang baik jika ditempatkan pada porsinya yaitu sebagai pelengkap nutrisi. Namun, makanan padat dengan gizi seimbang tetaplah raja dalam tumbuh kembang anak. Dengan pola asuh yang tepat dan konsistensi orang tua, anak dapat tumbuh dengan status gizi yang optimal, mendapatkan manfaat dari makanan padat sekaligus kebaikan dari susu.







