Connect with us

Nasional

Teror “Gunungan” Sampah: Krisis Kebersihan di Pasar Induk Kramat Jati dan Respons Pemerintah

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com Kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, yang seharusnya menjadi sentra distribusi pangan segar, belakangan ini justru menjadi sumber keluhan utama bagi masyarakat sekitar. Masalah klasik pengelolaan limbah kembali mencuat, di mana tumpukan sampah sisa aktivitas pasar telah menggunung hingga menciptakan polusi udara yang parah. Fenomena ini tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga menebar ancaman kesehatan melalui aroma busuk yang sangat menyengat, yang memaksa warga sekitar hidup dalam ketidaknyamanan. Penderitaan Warga: Bau Busuk yang Menginvasi Rumah. Dampak dari kegagalan pengelolaan sampah ini dirasakan secara langsung oleh warga di permukiman sekitar, khususnya di wilayah RT 03/RW 04, Kelurahan Tengah.

Salah seorang warga bernama Roni, mengungkapkan betapa parahnya situasi tersebut. Menurut kesaksiannya, aroma tidak sedap dari pasar mampu menembus jarak hingga radius 200 meter, masuk hingga ke ruang-ruang privat di dalam rumah warga. Intensitas bau busuk ini dilaporkan meningkat drastis pada kondisi tertentu: Saat Musim Hujan: Air hujan yang bercampur dengan tumpukan sampah organik memicu proses pembusukan yang lebih cepat, memperparah aroma yang timbul. Aktivitas Bongkar Muat: Ketika alat berat atau petugas mengaduk sampah untuk dipindahkan, gas metana dan bau busuk menyebar lebih luas terbawa angin. Berbeda dengan sampah rumah tangga biasa, limbah Pasar Induk didominasi oleh sisa sayuran dan buah-buahan busuk dalam volume raksasa. Hal ini menyebabkan aroma yang dihasilkan jauh lebih tajam dan menusuk.

Roni juga menyoroti bahwa masalah ini adalah penyakit menahun yang tak kunjung sembuh. Seringkali, alasan keterlambatan pengangkutan dikaitkan dengan kendala operasional di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, namun bagi warga, alasan tersebut tidak mengurangi penderitaan mereka sehari-hari. Selain polusi bau, warga lainnya bernama Syahrul (50), menyoroti invasi hama lalat yang semakin tidak terkendali. Terutama saat musim buah tiba, populasi lalat meningkat tajam dan mengerubungi permukiman warga yang berdekatan dengan titik pembuangan sampah pasar. Ironisnya, meskipun situasi ini sangat meresahkan dan telah berlangsung bertahun-tahun (bahkan memuncak dalam sebulan terakhir), warga cenderung memilih bungkam. Terdapat keengganan kolektif dan rasa takut dari warga untuk melayangkan protes resmi atau melakukan demonstrasi kepada pihak pengelola Pasar Induk maupun Dinas Lingkungan Hidup.

Akibatnya, keluhan hanya berputar di kalangan warga sendiri tanpa ada desakan eksternal yang kuat.Respons Cepat: Operasi “Pengerukan” Sampah. Merespons sorotan publik yang kian tajam, langkah konkret akhirnya diambil pada hari Kamis (8/1/2026). Pihak pengelola pasar berkolaborasi dengan instansi terkait untuk melakukan operasi pembersihan besar-besaran. Agus Lamun, selaku Manager Pasar Induk Kramat Jati, mengonfirmasi adanya peningkatan drastis dalam pengerahan armada kebersihan. Peningkatan Armada: Jika biasanya operasional harian hanya mengandalkan maksimal 8 truk, kini armada ditingkatkan dengan target hingga 20 unit truk pengangkut. Kolaborasi Lintas Sektor: Operasi ini melibatkan personel gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta dan Unit Pelaksana Kebersihan (UPK) Badan Air.Penggunaan Alat Berat: Mengingat kondisi sampah yang sudah menumpuk tinggi, mengeras, dan bervolume masif, pengerjaan tidak lagi bisa dilakukan secara manual.

Alat berat diterjunkan sejak pukul 05.30 WIB untuk mempercepat proses pemuatan sampah ke dalam truk (dumptruck) guna dibawa ke TPA.Fokus utama operasi saat ini adalah “mengempeskan” gunungan sampah yang menjadi sumber bau utama. Selain pengangkutan, petugas juga disebar untuk menyisir jalur akses pasar guna memastikan tidak ada ceceran sampah yang tertinggal. Agus berharap, melalui intervensi skala besar ini, volume sampah dapat berkurang signifikan dan kualitas lingkungan di sekitar Pasar Induk Kramat Jati dapat segera pulih, sembari terus melakukan koordinasi untuk mencegah penumpukan serupa terulang kembali di masa depan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *