Nasional
Keresahan Warga Akibat Gunungan Sampah ‘Abadi’ di Pasar Induk Kramat Jati

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Detik.com Permasalahan lingkungan kembali mencuat di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, di mana warga setempat mengeluhkan kondisi tumpukan sampah yang tak kunjung usai di Pasar Induk Kramat Jati. Keluhan ini bukan merupakan isu baru, melainkan akumulasi kekecewaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Warga yang tinggal di sekitar area pasar, khususnya di RT 03/RW 04 Kelurahan Tengah, melaporkan bahwa bau busuk yang menyengat dari gunungan sampah tersebut telah menjadi “makanan sehari-hari” yang sangat mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup mereka.
Menurut kesaksian salah satu warga bernama Roni, siklus penumpukan sampah ini seolah tidak pernah putus. Meskipun sempat ada upaya pembersihan, tumpukan limbah akan kembali menggunung dalam waktu singkat, membawa serta aroma tidak sedap yang menusuk hidung.

Situasi menjadi semakin parah ketika proses pengangkutan sampah mengalami keterlambatan atau ketika musim hujan tiba. Air hujan yang bercampur dengan limbah sayur-mayur dan buah-buahan busuk menciptakan aroma yang jauh lebih menyengat dibandingkan sampah rumah tangga biasa, bahkan baunya bisa tercium hingga ke dalam rumah-rumah warga yang tertutup rapat.
Masalah ini diperburuk dengan volume sampah yang masif. Dalam satu bulan terakhir, tumpukan sampah dilaporkan mencapai ketinggian yang mengkhawatirkan, yakni sekitar enam meter. Warga lain, Syahrul (50), mengungkapkan bahwa dampak dari gunungan sampah ini bukan hanya soal bau, melainkan juga masalah sanitasi berupa serbuan lalat. Terlebih saat musim buah tiba, populasi lalat yang berkerumun di pemukiman warga meningkat drastis, membawa risiko penyakit dan membuat lingkungan tempat tinggal menjadi kumuh dan tidak sehat.
Sayangnya, meskipun kondisi ini sudah sangat meresahkan dan berlangsung menahun, warga cenderung merasa tidak berdaya. Syahrul menuturkan bahwa banyak warga enggan atau takut untuk mengajukan protes resmi, baik kepada pihak pengelola Pasar Induk Kramat Jati maupun Dinas Lingkungan Hidup.

Kekecewaan hanya bisa diluapkan melalui keluhan-keluhan pribadi tanpa adanya aksi demonstrasi atau pelaporan formal yang terorganisir.
Harapan warga sebenarnya sederhana: mereka menginginkan solusi permanen dari pengelola pasar dan instansi terkait. Pengelolaan sampah di salah satu pusat distribusi pangan terbesar di Jakarta ini harus ditangani dengan manajemen yang lebih serius dan sistematis. Warga mendesak agar proses pengangkutan sampah dilakukan lebih cepat dan rutin sebelum sempat menumpuk tinggi dan membusuk, sehingga dampaknya tidak lagi merugikan kesehatan dan kenyamanan masyarakat yang bermukim di sekitarnya.







