Connect with us

Business

Transformasi Paradigma Transmigrasi, Mengadopsi Model Sukses Jeruk Madu Yichang untuk Sentra Ekonomi Baru Indonesia​

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Kunjungan Menteri Transmigrasi (Mentrans), M Iftitah Sulaiman Suryanagara, ke Desa Guan-Zhuang di Kota Yichang, Provinsi Hubei, China, membuka wawasan baru mengenai potensi besar kawasan transmigrasi. Yichang kini tidak lagi sekadar wilayah relokasi penduduk, melainkan telah bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru dengan daya saing global. Keberhasilan wilayah ini dalam mengembangkan komoditas jeruk madu menjadi bukti nyata bahwa kawasan transmigrasi, jika dikelola dengan tepat, mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang signifikan.​

Evolusi Yichang: Dari Pertanian Tradisional Menuju Pasar Global​

Perjalanan sukses Yichang bukanlah proses yang instan. Sejak tahun 1978, masyarakat setempat telah mengelola perkebunan jeruk, namun metode yang digunakan masih sangat tradisional dengan hasil panen yang terbatas. Titik balik terjadi pada tahun 2000, ketika Pemerintah China melakukan intervensi strategis melalui dukungan total yang meliputi pelatihan intensif, transfer teknologi modern, serta kolaborasi erat antara warga lokal dan para transmigran.​

Foto: transmigrasi.go.id

Hasil dari transformasi ini sangat fenomenal. Sektor agrikultur di Yichang mengalami lonjakan produktivitas yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani.

Peningkatan Pendapatan: Rata-rata pendapatan petani jeruk di Yichang kini menembus angka 30.000 Dolar AS per tahun. Angka ini sangat impresif jika dibandingkan dengan rata-rata pendapatan nasional China yang berkisar di angka 13.000 Dolar AS per tahun.

​• Jangkauan Pasar: Produksi jeruk madu Yichang kini tidak hanya mendominasi pasar domestik, tetapi juga menjadi komoditas ekspor unggulan ke berbagai negara, termasuk Rusia dan negara-negara Asia seperti Indonesia (khususnya wilayah Lampung).​

Transmigrasi Sebagai Wahana Transformasi Sosial-Ekonomi​

Mentrans Iftitah menegaskan bahwa Yichang mengajarkan pelajaran penting: transmigrasi bukan sekadar memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah sebuah proses transformasi sosial-ekonomi yang kompleks. Keberhasilan Yichang membuktikan bahwa sebuah kota kecil mampu tumbuh pesat berkat perhatian serius pemerintah dalam menata ulang kehidupan masyarakat pasca-relokasi.​

Kunci utamanya terletak pada kombinasi tiga elemen:​

  1. Pendidikan dan Pelatihan: Membekali SDM dengan skill yang relevan.​
  2. Pendampingan Teknologi: Modernisasi alat dan metode tanam.
  3. ​Industrialisasi Kawasan: Menciptakan ekosistem hulu ke hilir yang terintegrasi.

​Dengan pendekatan ini, transmigrasi menjadi solusi pengentasan kemiskinan yang efektif, mengangkat masyarakat menuju kemandirian ekonomi yang berbasis pada potensi wilayah masing-masing.

Foto: kompas.com

​Rencana Implementasi di Indonesia​

Terinspirasi oleh model pemberdayaan di Yichang, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) berencana mengadaptasi strategi ini untuk diterapkan di berbagai kawasan transmigrasi di Indonesia, dengan fokus khusus pada wilayah Papua dan Indonesia Timur.

Strategi yang akan dijalankan tidak hanya berpusat pada investasi fisik semata, melainkan menitikberatkan pada pembangunan manusia. Pemerintah berencana menggandeng investor asing, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk bermitra dengan masyarakat lokal.​

“Pendekatannya bukan hanya investasi fisik, tetapi juga pembangunan manusia. Modal dan teknologi boleh datang dari luar, tetapi tenaga kerja dan keberlanjutan tetap menjadi milik masyarakat kita.” M Iftitah Sulaiman Suryanagara​

Visi besarnya adalah menciptakan kawasan transmigrasi yang memiliki komoditas unggulan lokal, didukung oleh konektivitas yang baik dan industri pengolahan yang mumpuni, sehingga kesejahteraan transmigran dan penduduk lokal dapat meningkat secara berkelanjutan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *