Connect with us

International

Eskalasi di Dua Front: PBB Soroti Krisis Jurnalis di Gaza, Operasi Baru Meletus di Tepi Barat

Published

on

Semarang (usmnews) – Konflik Israel-Palestina kembali menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan di dua front yang berbeda secara geografis, namun saling terkait secara strategis. Di Jalur Gaza, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyuarakan keprihatinan mendalam atas krisis kemanusiaan yang spesifik, sementara di Tepi Barat, ketegangan meningkat akibat operasi militer Israel yang baru.

Di dalam Jalur Gaza yang terkepung, PBB secara khusus menyoroti angka kematian yang sangat tinggi di kalangan jurnalis. Juru bicara dari berbagai badan PBB, termasuk UNESCO dan Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), telah mengeluarkan peringatan keras mengenai hal ini.

Perhatian PBB ini bukan sekadar statistik. Ini adalah penekanan pada prinsip fundamental hukum kemanusiaan internasional, di mana jurnalis, koresponden media, dan personel media terkait dikategorikan sebagai warga sipil. Dengan demikian, mereka harus diberikan perlindungan dan tidak boleh menjadi sasaran militer.

Tingginya jumlah jurnalis yang tewas—yang oleh beberapa organisasi kebebasan pers seperti Committee to Protect Journalists (CPJ) digambarkan sebagai salah satu konflik paling mematikan bagi pekerja media dalam sejarah modern—menimbulkan pertanyaan serius tentang keselamatan mereka di lapangan. PBB khawatir bahwa pembunuhan jurnalis, baik yang disengaja maupun akibat serangan membabi buta, menciptakan apa yang disebut sebagai “perang tanpa saksi mata”.

Ketika jurnalis terbunuh, terluka, atau terintimidasi, kemampuan dunia untuk menerima informasi independen dan terverifikasi dari zona perang akan berkurang secara drastis. Ini menghambat upaya pemantauan hak asasi manusia, pelaporan kejahatan perang potensial, dan pemahaman publik global tentang realitas penderitaan warga sipil di Gaza. Peringatan PBB ini pada dasarnya adalah seruan untuk segera melindungi pilar kebenaran dan akuntabilitas di tengah kekacauan perang.

Sementara fokus global sebagian besar terpusat pada kehancuran di Gaza, laporan terbaru mengkonfirmasi bahwa pasukan Israel telah melancarkan serangkaian operasi militer baru di Tepi Barat yang diduduki. Wilayah ini, yang secara administratif terpisah dari Gaza dan sebagian dikelola oleh Otoritas Palestina, telah mengalami peningkatan kekerasan yang stabil sejak konflik di Gaza meletus.

Operasi-operasi baru ini dilaporkan mencakup serangan (raid) di berbagai kota, desa, dan kamp-kamp pengungsi, seperti Jenin dan Nablus, yang telah lama menjadi pusat perlawanan bersenjata Palestina. Tujuan yang dinyatakan dari operasi semacam itu biasanya adalah untuk membongkar jaringan militan, menyita senjata, dan menangkap individu yang dicari.

Namun, operasi ini hampir selalu memicu konfrontasi sengit dengan warga setempat dan kelompok bersenjata Palestina. Laporan-laporan mengindikasikan adanya baku tembak, penggunaan alat peledak, dan penangkapan massal. Eskalasi di Tepi Barat ini sangat signifikan karena menunjukkan bahwa konflik tidak terbatas di Gaza.

Hal ini memperumit situasi keamanan regional, memberikan tekanan besar pada Otoritas Palestina yang sudah rapuh, dan meningkatkan risiko pemberontakan yang lebih luas di Tepi Barat. Bagi warga Palestina di sana, operasi ini menambah ketakutan, mengganggu kehidupan sehari-hari, dan memperdalam rasa pendudukan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *