International
Prabowo-Albanese Sepakati Perjanjian Keamanan Baru, Perkuat ‘Filosofi Tetangga Baik’

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Detikcom Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, telah melangsungkan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, di Sydney. Dalam pertemuan yang diadakan di Kirribilli House, Presiden Prabowo menekankan pentingnya hubungan baik antara kedua negara, yang ia sebut sebagai “takdir” geografis yang tidak dapat diubah. Prabowo menggarisbawahi filosofi kebijakan bertetangga yang baik, di mana ia percaya bahwa tetangga yang baik harus saling membantu di masa-masa sulit. Ia mengutip sebuah pepatah Indonesia yang menyatakan bahwa dalam keadaan darurat, tetanggalah yang akan menjadi penolong pertama, bahkan seringkali lebih dekat daripada saudara kandung.
Perjanjian Keamanan Era BaruHasil utama dari pertemuan ini adalah pengumuman bersejarah mengenai kesepakatan substansial untuk perjanjian keamanan bilateral yang baru. PM Albanese, saat berbicara di atas kapal HMAS Canberra, mengonfirmasi bahwa negosiasi telah rampung dan perjanjian tersebut akan ditandatangani secara resmi di Indonesia pada awal tahun depan, dijadwalkan pada Januari 2026. Albanese menjelaskan bahwa perjanjian baru ini menandai “era baru” dalam hubungan kedua negara dan dibangun di atas fondasi kesepakatan sebelumnya. Perjanjian ini didasarkan pada perjanjian keamanan penting yang ditandatangani 30 tahun lalu pada era pemerintahan Soeharto, serta memperkuat Perjanjian Lombok 2006 dan perjanjian kerja sama pertahanan yang ditandatangani tahun lalu.

Tujuan dari kesepakatan ini adalah untuk mengamankan perdamaian dan stabilitas regional melalui tindakan bersama. Perjanjian ini akan mencakup mekanisme konsultasi berkala di tingkat pemimpin dan menteri untuk mengidentifikasi kegiatan keamanan yang saling menguntungkan atau untuk merespons jika keamanan salah satu atau kedua negara terancam.
Keakraban Personal dan Sambutan Bagpipe
Selain kesepakatan strategis, pertemuan ini juga diwarnai oleh keakraban personal yang kuat antara kedua pemimpin. Dimulai dari pertemuan empat mata di Kirribilli House, keduanya melanjutkan dialog intens saat melakukan peninjauan bersama di kapal perang HMAS Canberra. Dalam momen yang lebih santai, Presiden Prabowo memuji PM Albanese atas sambutan yang diterimanya. Prabowo secara khusus menyebut penggunaan alat musik bagpipe saat penyambutannya di kapal. Sambil tertawa, Prabowo berkelakar bahwa “intelijen” PM Albanese sangat bagus karena mengetahui bahwa dirinya menyukai bagpipe—alat musik yang juga pernah dimainkan dalam acara serah terimanya di Kementerian Pertahanan pada tahun 2024.

Kehangatan hubungan ini terlihat jelas saat PM Albanese secara terbuka menyebut Prabowo sebagai “teman saya” (“my friend”) dalam konferensi pers. Prabowo pun membalasnya dengan meminta izin untuk memanggil Albanese dengan sapaan akrab “Albo,” yang langsung disetujui. Prabowo juga mengenang sejarah hubungan dekatnya dengan beberapa mantan PM Australia, seperti Gough Whitlam, Robert Hawke, dan Paul Keating, yang menunjukkan kelanjutan dari relasi erat antara kedua negara.






