Anak-anak
80% Pengguna Internet Indonesia Anak-Anak, Komdigi Dorong Regulasi dan YouTube Luncurkan Fitur Kesehatan Mental
Jakarta (usmnews) – dikutip dari MalukuNews Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyoroti fakta yang mengkhawatirkan mengenai lanskap digital Indonesia, di mana mayoritas penggunanya adalah kelompok usia muda. Irawati Tjipto Priyanti, selaku Direktur Penyidikan Digital Komdigi, mengungkapkan bahwa data terbaru menunjukkan lebih dari 80 persen pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak hingga remaja yang berusia 17 tahun.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis (20/11), Irawati menegaskan bahwa dominasi pengguna usia muda ini secara otomatis menciptakan potensi risiko yang sangat tinggi. “Kemudian di situ potensinya artinya anak-anak terkena risiko-risiko yang tadi, konten-konten yang negatif,” ungkapnya.
Kondisi inilah yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk secara serius mendorong percepatan regulasi yang bersifat komprehensif sekaligus dinamis, salah satunya melalui kebijakan PP Tunas. Regulasi ini dirancang secara khusus untuk memberikan perlindungan maksimal bagi anak-anak di ruang digital yang terus berkembang.
Faktor Sosial Perburuk Kerentanan Digital
Irawati lebih lanjut menjelaskan bahwa kerentanan anak-anak di dunia maya tidak hanya disebabkan oleh paparan teknologi semata. Faktor-faktor sosial di dunia nyata, seperti maraknya kasus perundungan (bullying) dan kondisi keluarga yang tidak stabil (broken home), terbukti memberikan kontribusi signifikan.
Ia mencontohkan temuan kasus di mana remaja terpapar konten ekstrem dan kekerasan, bahkan sampai pada titik mempelajari cara merakit bahan berbahaya melalui panduan yang ditemukan di media sosial. “Informasinya mereka karena ada bullying. Terus keluarganya juga mungkin broken home, ini datanya menunjukkan seperti itu,” ucap Irawati, menyoroti korelasi antara anak-anak yang menjadi korban bullying di sekolah dengan kerentanan mereka terhadap konten negatif secara daring.
Ancaman ini semakin nyata dengan adanya temuan dari lembaga lain. Pemerintah, melalui kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Bareskrim, dan lembaga pendidikan, terus berupaya memperkuat edukasi literasi digital.
Irawati merujuk pada penelitian terbaru yang baru saja dipublikasikan oleh BNPT. “Penelitian dari BNPT kemarin juga di-publish. Lebih dari 100 anak sudah terpapar untuk konten yang memotivasi mereka untuk melakukan terorisme, itu korban anak-anak itu,” jelasnya, menggambarkan betapa seriusnya ancaman paparan konten ekstremisme dan kekerasan di kalangan anak Indonesia.
Inisiatif Platform untuk Kesejahteraan Digital
Menanggapi situasi darurat ini, platform digital besar turut mengambil langkah proaktif. YouTube Indonesia mengumumkan inisiatifnya untuk memperkuat aspek kesejahteraan digital, terutama bagi pengguna remajanya. Langkah ini diwujudkan melalui peluncuran fitur “YouTube Mental Health Shelf” (Rak Kesehatan Mental YouTube) serta penerapan kebijakan pembatasan durasi tontonan video “Shorts” untuk pengguna di bawah umur.
Garth Graham, Global Head of Health YouTube, menegaskan bahwa isu keamanan dan kesejahteraan anak-anak bukanlah sekadar tujuan, melainkan merupakan fondasi utama dari seluruh operasi YouTube secara global.
Graham memaparkan bahwa timnya bekerja dengan berlandaskan pada lima prinsip utama untuk menciptakan ekosistem digital yang aman. Prinsip tersebut mencakup:
- Menjamin keamanan dan kesejahteraan anak-anak.
- Memberdayakan orang tua dan pengasuh dengan menyediakan alat kontrol digital yang mumpuni.
- Memberikan akses yang mudah terhadap konten kesehatan mental berkualitas tinggi.
- Memahami dan menjawab kebutuhan perkembangan yang berbeda-beda pada tiap jenjang usia remaja.
- Mendorong kreativitas dan proses pembelajaran digital yang positif.
“Kami ingin memastikan anak muda tidak only aman, tapi juga bisa belajar dan tumbuh secara sehat di dunia digital,” tambah Graham. Melalui program ini, YouTube berharap dapat meningkatkan kesadaran di kalangan remaja Indonesia akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan menemukan keseimbangan dalam beraktivitas di dunia digital.