Connect with us

Education

Waspada Virus Nipah di India: Otoritas Kesehatan Tes Kelelawar di Kebun Binatang untuk Lacak Sumber Penularan

Published

on

Semarang ( usmnews ) – Dikutip dari Kompas.com Situasi kesehatan di wilayah Benggala Barat, India, kini tengah berada dalam status waspada tinggi setelah terdeteksinya lima kasus positif virus Nipah yang mematikan. Sebagai langkah responsif guna memutus rantai penyebaran dan mengidentifikasi asal-muasal infeksi, pemerintah setempat mulai melakukan langkah radikal dengan menguji populasi kelelawar, yang selama ini dikenal sebagai inang alami (reservoir) dari virus tersebut. Fokus pengujian ini tidak hanya menyasar habitat liar, tetapi juga mencakup satwa dalam penangkaran, seperti yang dilakukan di Kebun Binatang Alipore, Kolkata.

Pemeriksaan massal ini menggunakan metode Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), sebuah teknologi laboratorium yang sensitif untuk mendeteksi materi genetik virus. Kebun Binatang Alipore menjadi target krusial karena merupakan satu-satunya fasilitas konservasi di Kolkata yang memelihara kelelawar secara resmi.

Pekan lalu, tim ahli medis selama dua hari berturut-turut telah mengumpulkan berbagai sampel, mulai dari spesimen darah hingga usap (swab), guna memastikan apakah virus tersebut sedang bersirkulasi di antara hewan-hewan tersebut. Direktur Kebun Binatang Alipore, Tripti Sah, memastikan bahwa seluruh prosedur pengambilan sampel dilaksanakan dengan kepatuhan ketat terhadap protokol keamanan biologis demi mencegah risiko kebocoran virus selama proses penelitian.

Operasi pemantauan kesehatan ini bukanlah langkah mandiri, melainkan kolaborasi lintas instansi yang sangat serius. Pengujian tersebut diawasi secara langsung oleh dua lembaga medis tertinggi di negara itu, yakni Institut Virologi Nasional India dan Dewan Riset Medis India. Selain itu, Departemen Kehutanan Benggala Barat berperan penting dalam memberikan dukungan logistik dan izin operasional. Sandeep Sundriyal, selaku kepala penjaga satwa liar setempat, menegaskan bahwa penangkapan kelelawar untuk keperluan medis ini telah melalui proses legalitas yang matang demi menjamin etika penelitian dan konservasi.

Kekhawatiran publik memuncak setelah diketahui bahwa lima orang yang terinfeksi pada awal bulan ini semuanya merupakan petugas kesehatan. Hal ini menunjukkan risiko penularan yang sangat nyata bagi mereka yang berada di garis depan. Dua kasus pertama menimpa staf perawat di sebuah rumah sakit swasta di Barasat, yang lokasinya hanya berjarak 24 kilometer dari ibu kota negara bagian, Kolkata. Tak lama berselang, tiga tenaga medis lainnya—terdiri dari seorang dokter, seorang perawat, dan seorang petugas kesehatan—di Distrik Purba Bardhaman juga dinyatakan positif.

Fenomena infeksi pada tenaga medis ini memicu alarm kewaspadaan di seluruh India, bahkan merembet ke negara-negara tetangga di Asia seperti Thailand, yang mulai memperketat pemeriksaan penumpang pesawat dari India. Munculnya virus Nipah menjadi pengingat serius bagi dunia tentang ancaman penyakit zoonosis yang belum memiliki obat atau vaksin khusus hingga saat ini. Melalui pengujian kelelawar ini, diharapkan otoritas kesehatan India dapat segera memahami pola penyebaran virus dan merumuskan strategi mitigasi yang lebih efektif untuk mencegah terjadinya pandemi baru yang lebih luas.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *