Education

Waspada Kembalinya Virus Nipah: Asal-Usul, Gejala, dan Tingkat Bahayanya Menurut Pakar

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Dunia kesehatan global kembali dihadapkan pada tantangan serius. Setelah sebelumnya sempat ramai dibicarakan perihal ancaman virus “Superflu”, kini perhatian internasional tertuju pada kebangkitan kembali virus Nipah. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa virus ini mulai menunjukkan tren penyebaran yang meluas di India pada awal tahun 2026. Situasi ini memicu kewaspadaan tinggi di berbagai negara, termasuk Indonesia, mengingat potensi penyebarannya yang lintas batas. Menanggapi hal ini, dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD, seorang dosen dan pakar kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), memberikan penjelasan rinci mengenai karakteristik virus ini untuk meningkatkan kesadaran publik.

Jejak Asal-Usul: Dari Kelelawar ke Manusia

Menurut penjelasan dr. Milanitalia, virus Nipah memiliki inang alami atau reservoir pada kelelawar buah, khususnya yang berasal dari genus Pteropus, atau yang sering dikenal masyarakat awam sebagai kalong (flying foxes). Keunikan sekaligus bahaya dari hewan ini adalah kemampuannya untuk membawa virus Nipah di dalam tubuh mereka tanpa menunjukkan gejala sakit sedikitpun.

Transmisi atau penularan virus ini ke manusia tidak selalu terjadi secara langsung dari kelelawar. Seringkali, terdapat perantara hewan lain, seperti babi, yang terinfeksi terlebih dahulu sebelum akhirnya menularkan ke manusia. Namun, penularan langsung juga sangat dimungkinkan melalui konsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Cairan tubuh kelelawar, seperti air liur atau urin, yang mengenai buah-buahan atau nira kelapa mentah, menjadi media penularan yang efektif. Jika manusia mengonsumsi produk alam tersebut tanpa pengolahan yang higienis atau memasaknya dengan benar, risiko infeksi menjadi sangat tinggi.

Gejala Klinis dan Serangan pada Organ Vital

Infeksi virus Nipah dikategorikan sebagai penyakit akut dengan perkembangan yang sangat cepat dan progresif. Dr. Milanitalia memaparkan bahwa gejala awal mungkin terlihat umum seperti demam tinggi, namun kondisi pasien dapat memburuk dengan drastis. Penurunan kesadaran menjadi tanda peringatan serius yang bisa berujung pada koma dalam waktu singkat.

Bahaya utama dari virus Nipah terletak pada target serangannya di dalam tubuh manusia. Virus ini memiliki kemampuan merusak dua sistem organ yang sangat vital:

1. Sistem Saraf Pusat: Infeksi ini seringkali menyebabkan ensefalitis atau peradangan pada jaringan otak. Kondisi ini yang memicu gejala neurologis berat seperti kejang dan penurunan kesadaran.

2. Sistem Pernapasan: Selain otak, virus ini juga menyerang paru-paru secara agresif, memicu peradangan parah yang dapat menyebabkan gagal napas akut.

Tingkat Fatalitas yang Mengkhawatirkan

Kombinasi serangan pada otak dan paru-paru inilah yang membuat virus Nipah memiliki tingkat fatalitas atau angka kematian yang relatif tinggi dibandingkan dengan banyak infeksi virus lainnya. Kerusakan ganda pada sistem pernapasan dan sistem saraf pusat membuat penanganan medis menjadi sangat kompleks dan seringkali terlambat jika gejala awal diabaikan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai rute penularan—terutama menghindari konsumsi buah atau nira yang berpotensi tercemar kelelawar—menjadi langkah pencegahan primer yang sangat krusial bagi masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version