Tech
Waspada Gelombang Ekstrem: BMKG Deteksi Potensi Gelombang Setinggi Empat Meter di Perairan Sulut, Ratusan Nelayan Manado Pilih Menepi
Sulawesi Utara (usmnews) – Pantauan di lapangan oleh Liputan6.com kondisi cuaca maritim di kawasan Sulawesi Utara (Sulut) dan sekitarnya sedang menghadapi tantangan signifikan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah secara resmi mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi terjadinya gelombang sangat tinggi di sejumlah titik perairan.
Diperkirakan, ketinggian ombak di tiga wilayah spesifik dapat melonjak hingga mencapai empat meter, memicu kewaspadaan tingkat tinggi bagi aktivitas pelayaran. Imbas dari peringatan cuaca ekstrem ini terlihat nyata di sepanjang garis pantai Manado.
Ratusan nelayan yang menggantungkan hidupnya dari laut terpaksa membuat keputusan sulit. Mereka memilih untuk menghentikan sementara aktivitas melaut dan menambatkan perahu-perahu mereka di bibir pantai, mengutamakan keselamatan jiwa di tengah ancaman gelombang besar dan angin kencang.
Konfirmasi mengenai peringatan ini disampaikan langsung oleh Koordinator Bidang Observasi dan Informasi dari BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Bitung, Ricky D Aror, pada Jumat pagi, 7 November 2025. Ricky menegaskan bahwa BMKG telah merilis peringatan dini yang akan berlaku selama beberapa hari ke depan, yakni hingga tanggal 10 November 2025.
Dalam rinciannya, Ricky memaparkan bahwa gelombang dengan kategori ‘tinggi’, yang memiliki rentang ketinggian antara 2,5 hingga 4,0 meter, memiliki peluang besar untuk terjadi di tiga kawasan perairan utama. Wilayah-wilayah tersebut adalah perairan di sekitar Kabupaten Kepulauan Sangihe, perairan Kabupaten Kepulauan Talaud, serta kawasan strategis Laut Maluku.
Selain tiga lokasi dengan potensi gelombang paling ekstrem tersebut, BMKG juga memprediksi adanya gelombang kategori ‘sedang’. Gelombang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter ini berpeluang terjadi di wilayah perairan Selatan Sulawesi Utara, perairan Kabupaten Minahasa Utara, perairan Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), serta perairan Sulawesi pada umumnya.
Penyebab utama dari fenomena cuaca ekstrem ini telah diidentifikasi. Ricky menjelaskan bahwa pantauan BMKG saat ini mendeteksi keberadaan siklon tropis “Fung-Wong”. Siklon ini terpantau aktif bergerak di Samudra Pasifik, tepatnya di area sebelah utara Papua.
Kekuatan siklon ini tidak main-main, dengan kecepatan angin maksimum di pusatnya mencapai 45 knot (atau setara dengan 83 kilometer per jam) dan tekanan udara yang sangat rendah, yakni 992 hPa. Keberadaan siklon tropis tersebut secara langsung memengaruhi pola angin di kawasan utara Sulawesi.
“Angin di perairan utara Sulawesi dominan dari arah Barat dengan kecepatan 6 – 25 knot,” ujar Ricky.
Ia menambahkan bahwa potensi terjadinya kecepatan angin maksimum dapat melanda hampir seluruh wilayah perairan utara Sulawesi, yang pada gilirannya akan semakin meningkatkan potensi pembentukan gelombang tinggi di area tersebut.
Menyikapi situasi ini, BMKG mengimbau keras masyarakat dan operator pelayaran. “Kami berharap warga berhati-hati apabila melakukan aktivitas di wilayah perairan dengan tinggi gelombang hingga empat meter untuk keselamatan pelayaran,” kata Ricky. Imbauan ini ditaati oleh para nelayan.
Di Pantai Karangria, Kecamatan Tuminting, Kota Manado, ratusan perahu tampak terparkir rapi di daratan. Ungke, salah seorang nelayan setempat, mengonfirmasi keputusan tersebut.
“Gelombang lagi tinggi, angin kencang. Jadi kami memilih untuk tidak melaut,” jelasnya singkat, menggambarkan kondisi berbahaya yang memaksa mereka untuk sementara waktu beristirahat mencari nafkah.