International
Wabah Flu Burung Tiba di Benua Australia dan Mengancam Ekosistem Satwa Liar Serta Industri Peternakan
Semarang (usmnews) Dikutip Kompas.com Kasus perdana flu burung varian H5N1 baru saja terkonfirmasi di wilayah Australia yang secara resmi mengakhiri rekor benua tersebut sebagai satu satunya kawasan di dunia yang masih terbebas dari ancaman mematikan virus ini. Penyakit menular ini awalnya teridentifikasi pada seekor burung skua cokelat yang merupakan spesies burung migran dari wilayah subantartika. Burung tersebut ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di kawasan Taman Nasional Cape Le Grand yang terletak di Australia Barat. Tidak lama berselang, muncul pula kecurigaan kuat akan adanya kasus kedua yang menginfeksi seekor burung petrel raksasa di area yang tidak berjauhan. Para ilmuwan meyakini bahwa kedua unggas tersebut membawa virus mematikan ini setelah melakukan perjalanan panjang migrasi dari kawasan subantartika menuju daratan Australia.
Penyebaran dari flu burung varian H5N1 ini sebenarnya sudah menjadi sorotan dunia sejak tahun dua ribu dua puluh satu. Wabah penyakit ini tercatat telah memusnahkan jutaan unggas serta ribuan mamalia laut di berbagai penjuru bumi. Menurut pandangan dari pakar epidemiologi veteriner dari Universitas Charles Sturt, penularan penyakit ini memiliki sifat panzootik yang berarti virus ini memiliki kemampuan luar biasa untuk menyebar melintasi batas benua dan menginfeksi beraneka ragam spesies hewan. Data dari pengamat satwa liar mencatat bahwa lebih dari lima ratus enam puluh spesies burung liar dan seratus jenis mamalia berbeda telah menjadi korban keganasan virus ini. Berawal dari Benua Asia, pergerakan virus ini terus meluas tiada henti bahkan hingga menyentuh daratan es Antartika pada Agustus tahun lalu yang menyebabkan kematian belasan ribu anak anjing laut gajah.
Menghadapi kenyataan pahit masuknya penyakit ini, pemerintah federal Australia mengklaim bahwa mereka telah melakukan persiapan yang matang sejak lama. Sekretaris Pertanian Federal Australia menyadari sepenuhnya bahwa status bebas flu burung bagi benua tersebut tidak akan mungkin bisa dipertahankan untuk selamanya. Di tingkat daerah, Menteri Pertanian Australia Barat juga menegaskan bahwa langkah langkah penanganan darurat yang sigap telah dieksekusi dengan baik berkat keandalan sistem deteksi dini yang mereka miliki. Spesimen dari burung yang terpapar langsung diisolasi secara ketat dan diuji secara mendalam oleh laboratorium pusat kesiapsiagaan penyakit nasional Australia. Pemerintah setempat menyambut baik berfungsinya sistem pelaporan dan pengawasan ini dengan optimal. Namun demikian, mereka tetap bernapas lega karena hingga saat ini belum ditemukan adanya penularan yang masuk pada sektor unggas ternak komersial maupun tanda tanda kematian massal pada populasi hewan liar lainnya.
Jika dibandingkan dengan varian flu burung sebelumnya yang pernah merebak di peternakan lokal, varian H5 diakui membawa ancaman dan dampak kerusakan yang jauh lebih masif. Pakar virus influenza burung dari Universitas Melbourne menggarisbawahi bahwa penyebaran H5 terbukti sangat menghancurkan tatanan industri peternakan unggas secara global. Sebagai perbandingan nyata, Amerika Serikat terpaksa memusnahkan lebih dari dua ratus juta ekor ayam akibat invasi virus ini ke area peternakan mereka. Tindakan pemusnahan massal tersebut tidak hanya merugikan para peternak dan menjadi tragedi bagi hewan unggas, tetapi juga memicu efek berantai di masyarakat berupa lonjakan drastis harga kebutuhan pokok serta kelangkaan produk telur dan daging unggas di berbagai pusat perbelanjaan. Ketakutan akan terulangnya krisis pangan serupa kini mulai membayangi para pelaku industri peternakan di seluruh daratan Australia.
Walaupun penyebaran utama wabah ini terjadi secara masif di antara kelompok hewan, risiko penularannya terhadap manusia sama sekali tidak boleh dipandang sebelah mata. Kasus infeksi silang kepada manusia memang tergolong sangat langka, namun tetap menyimpan potensi bahaya fatal jika terjadi kontak langsung. Gejala yang ditimbulkan pada manusia yang terinfeksi cukup beragam dan menyiksa, mulai dari demam tinggi, batuk yang tidak kunjung reda, radang tenggorokan yang perih, peradangan selaput mata atau konjungtivitis, hingga nyeri hebat pada otot tubuh. Peneliti kesehatan menegaskan bahwa hampir seluruh kasus penularan pada manusia yang tercatat di dunia selalu bermula dari paparan langsung penderita dengan unggas yang sakit atau mamalia yang terinfeksi. Oleh sebab itu, otoritas kesehatan memberikan imbauan tegas kepada masyarakat luas untuk senantiasa menjaga jarak aman dan sama sekali tidak melakukan sentuhan fisik apabila menemukan mamalia laut atau burung liar yang menunjukkan perilaku ganjil dan tanda tanda sakit.
Kini ancaman terkelam justru mengintai kelestarian populasi satwa endemik khas benua Australia yang banyak di antaranya sudah berstatus rentan atau terancam punah. Pemerintah melalui komisi perlindungan spesies terancam punah telah mulai menginventarisasi hewan hewan berisiko tinggi terhadap infeksi ini, mulai dari Setan Tasmania hingga anjing laut bulu Australia. Para ahli dan dewan konservasi memperingatkan dengan keras bahwa jika virus ini berhasil beradaptasi dan menyebar luas di alam liar, dampaknya terhadap satwa asli Australia bisa jauh lebih merusak dan tragis dibandingkan dengan apa yang telah terjadi di ekosistem belahan bumi utara. Situasi ini dinilai sebagai sebuah kondisi darurat margasatwa yang sesungguhnya dan menuntut pengalokasian dana tanggap darurat yang memadai demi tindakan perlindungan ekstra. Kekhawatiran mendalam juga terus disuarakan oleh para aktivis pelestarian hewan laut, terutama terkait masa depan populasi singa laut Australia yang jumlahnya kini hanya tersisa sekitar dua belas ribu ekor saja. Serangan mematikan flu burung ditakutkan akan menjadi pukulan telak terakhir yang secara paksa mendorong spesies langka nan ikonik tersebut menuju jurang kepunahan abadi.