Connect with us

Nasional

Visi Kemanusiaan Megawati Soekarnoputri di Zayed Award 2026: Seruan Mengakhiri Era Perang demi Persaudaraan Global

Published

on

Semarang (usmnews) Dikutip dari detik.com, Dalam sebuah pidato yang sarat akan nilai kemanusiaan dan refleksi mendalam, Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pesan penting di panggung Zayed Award for Human Fraternity 2026.

Sebagai salah satu tokoh dunia yang dipercaya menjadi juri dalam ajang prestisius ini, Megawati menekankan bahwa di tengah kemajuan peradaban modern, keberadaan perang dan konflik bersenjata seharusnya sudah menjadi peninggalan masa lalu yang tidak lagi memiliki tempat di bumi.

Filosofi Satu Bumi dan Satu Kemanusiaan

Poin utama yang ditekankan oleh Megawati adalah kesadaran kolektif bahwa seluruh umat manusia menghuni satu planet yang sama. Ia menggarisbawahi bahwa egoisme sektoral, ambisi geopolitik, dan sentimen kelompok seharusnya luruh di hadapan fakta bahwa kita semua adalah satu keluarga besar manusia. Menurutnya, konsep “Satu Bumi” bukan sekadar slogan ekologis, melainkan sebuah mandat etis bagi setiap pemimpin dunia dan masyarakat global untuk menjaga keharmonisan.

Megawati menyatakan bahwa di era sekarang, di mana teknologi dan ilmu pengetahuan telah mencapai puncaknya, sangatlah ironis jika energi manusia masih dihabiskan untuk saling menghancurkan. Perang, dalam pandangannya, adalah bentuk kemunduran nurani yang merugikan semua pihak, tanpa terkecuali. Ia mengajak dunia untuk melihat melampaui batas-batas kedaulatan negara dan mulai memikirkan keselamatan planet ini secara menyeluruh.

Zayed Award sebagai Simbol Persaudaraan

Kehadiran Megawati dalam acara tersebut memiliki nilai simbolis yang kuat. Sebagai bagian dari dewan juri internasional, ia membawa suara dari Indonesia—negara yang memegang teguh prinsip kebinekaan dan perdamaian abadi. Zayed Award sendiri merupakan penghargaan yang lahir dari semangat Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, di Abu Dhabi pada 2019.

Dalam konteks ini, Megawati memandang penghargaan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan platform vital untuk menyebarkan “virus” perdamaian. Ia mengapresiasi para penerima penghargaan yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk menjembatani perbedaan dan membantu mereka yang terpinggirkan akibat konflik. Bagi Megawati, tindakan nyata dalam merajut persaudaraan adalah jawaban paling efektif untuk melawan narasi kebencian yang sering memicu peperangan.

Tantangan Bagi Pemimpin Dunia

Lebih jauh lagi, Megawati menyampaikan kegelisahannya terhadap situasi global yang masih diwarnai oleh ketegangan bersenjata di berbagai belahan dunia. Ia menyoroti bahwa penderitaan yang diakibatkan oleh perang mulai dari krisis kemanusiaan, pengungsian, hingga trauma berkepanjangan pada anak-anak adalah “luka” bagi seluruh bumi.

Ia menyerukan agar para pemimpin dunia mengedepankan dialog daripada konfrontasi. Diplomasi yang berlandaskan hati dan rasa kemanusiaan (human fraternity) dianggap sebagai kunci untuk memecahkan kebuntuan politik internasional. Megawati percaya bahwa jika semangat persaudaraan ini diinternalisasi ke dalam kebijakan luar negeri setiap negara, maka anggaran yang selama ini digunakan untuk persenjataan dapat dialihkan untuk kesejahteraan, pendidikan, dan penanganan krisis iklim yang mengancam rumah kita bersama.

Kesimpulan: Pulang ke Akar Kemanusiaan

Pesan Megawati di Zayed Award 2026 adalah sebuah pengingat bagi dunia untuk “pulang” ke akar kemanusiaan yang suci. Bahwa tidak ada pemenang sejati dalam perang; yang ada hanyalah kemanusiaan yang kalah. Dengan menegaskan kembali pentingnya hidup berdampingan secara damai, Megawati mengajak kita semua untuk memandang sesama bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai saudara sebumi.

Seruan “seharusnya sudah tidak ada perang” adalah harapan sekaligus tuntutan moral agar generasi mendatang tidak lagi mewarisi dunia yang hancur, melainkan dunia yang teduh, inklusif, dan penuh dengan semangat persaudaraan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *