Nasional

Vihara Tertua Jakarta: Menyusuri Jejak Sejarah Rumah Ibadah Empat Abad di Glodok

Published

on

semarang (usmnews) — Kawasan Pecinan Pancoran Glodok menyimpan sebuah permata sejarah yang sangat berharga. Keberadaan Vihara tertua Jakarta yang bernama Vihara Dharma Bhakti menjadi bukti nyata keharmonisan sosial. Bangunan suci ini resmi berdiri sejak tahun 1650. Struktur kuno ini terus bertahan menghadapi perubahan zaman hingga era modern sekarang. Kehadiran rumah ibadah tersebut merekam perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Batavia. Pembaca dapat mencermati panduan destinasi wisata sejarah terkini melalui halaman informasi pariwisata internal kami. Oleh karena itu, destinasi religi ini menawarkan atmosfer masa lalu yang sangat kental.

Penanda Pusat Aktivitas Perdagangan Masa Kolonial Batavia

Pendiri komunitas SANA Kenal Kota, Abimantra Pradhana, memberikan sebuah penjelasan menarik. Usia tempat peribadatan ini hampir setua perkembangan awal kota Batavia. Kehadiran rumah ibadah kuno umumnya menjadi penanda utama wilayah perkotaan tua, komunitas Tionghoa selalu membangun tempat pemujaan dekat pasar.

Integrasi area komersial dan pusat spiritual ini membentuk karakteristik unik wilayah Glodok. Warga dapat membaca analisis perkembangan arsitektur kota pada halaman internal kami. Melalui ulasan tersebut, publik dapat memahami pola persebaran permukiman etnis secara jelas. Sementara itu, mayoritas masyarakat urban saat ini justru belum menyadari eksistensi bangunan tersebut. Banyak warga melewati rute harian tanpa mengetahui sejarah kelenteng tua ini.

Rekonstruksi Bangunan Pasca Tragedi Geger Pecinan Abad Ke-18

Berdasarkan dokumen sejarah resmi, Letnan China Kwee Hoen mendirikan bangunan ini pertama kali. Ia menyematkan nama awal Koan Im Teng sebagai penghormatan kepada Dewi Kwan Im. Namun, sebuah petaka besar melanda kawasan Pecinan pada tahun 1740. Peristiwa konflik berdarah Geger Pecinan menghanguskan seluruh struktur utama bangunan kayu. Melalui halaman informasi katalog cagar budaya nasional pada tautan luar, publik dapat melihat foto restorasi fisik.

Kapten Oei Tjhie kemudian memimpin proyek pemugaran total kompleks pusaka ini pada tahun 1755. Ia juga memberikan nama baru yakni Jin De Yuan atau Kim Tek Ie. Nama tersebut mengandung makna filosofis berupa kebajikan emas sebagai pedoman hidup. Hingga saat ini, pengelola vihara tetap mempertahankan keaslian ornamen interior asli. Pengurus merawat arsitektur atap khas Tiongkok Selatan demi menjaga nilai otentisitas sejarah. Akibatnya, situs warisan budaya ini terus menarik perhatian besar dari para wisatawan global.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version