International

Veteran AS Protes Perang Iran: Puluhan Orang Ditahan di Gedung Kongres

Published

on

Semarang (usmnews)- Ketegangan politik di Amerika Serikat memuncak setelah puluhan veteran dan keluarga militer menggelar aksi unjuk rasa di Washington DC. Oleh karena itu, polisi terpaksa mengamankan massa yang melakukan Veteran AS Protes Perang di dalam gedung kantor Kongres pada Senin, 20 April 2026. Kelompok pengunjuk rasa bernama About Face memimpin aksi ini untuk menuntut legislator segera menghentikan kebijakan perang Presiden Donald Trump terhadap Iran. Akibatnya, kericuhan kecil pecah saat para demonstran menolak perintah pembubaran dari Kepolisian Capitol yang bertugas. Sebanyak 60 orang dari total 150 peserta aksi harus berakhir di tahanan karena tetap bertahan di dalam gedung negara tersebut. Selain itu, aksi ini menjadi sorotan dunia karena melibatkan orang-orang yang pernah berada di garis depan pertempuran.

Upacara Pelipatan Bendera dan Aksi Simbolis Veteran AS Protes Perang

Massa mengawali kegiatan mereka dengan menggelar upacara pelipatan bendera yang khidmat di rotunda Gedung Cannon House Office. Oleh sebab itu, simbol-berupa bendera lipat dan bunga menjadi alat utama dalam menyuarakan aspirasi Veteran AS Protes Perang kali ini. Para veteran ingin menunjukkan bahwa mereka sangat menghormati rekan sejawat yang telah gugur namun menolak adanya konflik baru. Selain itu, peserta aksi berbaris rapi sambil meneriakkan slogan-slogan penolakan terhadap kebijakan militer yang dinilai merugikan banyak pihak. Dengan demikian, pesan yang mereka bawa terasa sangat emosional karena datang langsung dari pengalaman pribadi di medan perang. Mereka menganggap perang dengan Iran hanya akan menambah daftar panjang korban jiwa yang tidak perlu.

Penangkapan Massal di Tengah Tuntutan Veteran AS Protes Perang

Polisi Capitol awalnya memberikan peringatan lisan agar massa segera meninggalkan lokasi demi ketertiban umum. Namun, mayoritas demonstran mengabaikan instruksi tersebut hingga polisi akhirnya melakukan tindakan tegas berupa penangkapan saat aksi Veteran AS Protes Perang masih berlangsung. Petugas membawa lebih dari 60 orang ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait pelanggaran prosedur keamanan gedung pemerintah. Selanjutnya, suasana di sekitar gedung Kongres sempat mencekam saat proses evakuasi paksa para veteran ini berlangsung. Meskipun demikian, para peserta aksi tetap memegang teguh prinsip mereka untuk menyuarakan perdamaian meski harus menghadapi risiko hukum. Penangkapan ini justru memicu gelombang dukungan dari berbagai kelompok masyarakat sipil lainnya di Amerika Serikat.

Desakan kepada Kongres dalam Gerakan Veteran AS Protes Perang

Salah satu peserta aksi, Jessica Serrato, menegaskan bahwa Kongres memiliki kewenangan penuh untuk mengontrol kebijakan luar negeri presiden. Oleh karena itu, ia mempertanyakan sikap para legislator yang masih bungkam dan membiarkan eskalasi militer terus berlanjut melalui gerakan Veteran AS Protes Perang ini. Para pendemo berharap para wakil rakyat segera mengambil langkah nyata untuk membatalkan rencana konflik bersenjata dengan Iran. Bahkan, mereka mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar jika tuntutan untuk menghentikan perang tidak segera mendapat respon positif. Alhasil, tekanan terhadap pemerintah AS kini datang tidak hanya dari luar negeri, tetapi juga dari warga negaranya sendiri yang memahami dampak buruk peperangan.

Kredibilitas berita ini merujuk pada laporan foto dan artikel dari detikNews yang melaporkan langsung kejadian di Washington D.C. Akhirnya, nasib kebijakan perang ini kini berada di tangan para legislator yang didesak untuk bertindak lebih bijak demi keamanan global.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version