Nasional
Tragis! Insiden Kebakaran di Biringkanaya Makassar Renggut Nyawa Penyandang Disabilitas
Semarang (usmnews) – Kebakaran di Biringkanaya Makassar yang menghanguskan permukiman padat penduduk terjadi secara tiba-tiba dan memicu kepanikan massal. Musibah nahas ini tidak hanya menimbulkan kerugian material berupa bangunan dan harta benda yang hangus menjadi abu, tetapi juga menyisakan isak tangis karena merenggut nyawa satu orang warga yang diketahui merupakan seorang penyandang disabilitas.
Bencana kebakaran di area permukiman memang selalu menjadi ancaman serius, terutama jika terjadi di kawasan yang padat dengan akses jalan yang terbatas. Kehilangan nyawa seorang warga yang memiliki keterbatasan fisik ini membuka mata banyak pihak mengenai betapa pentingnya skema evakuasi darurat yang inklusif.
Kronologi Tragis Kebakaran di Biringkanaya Makassar
Malam yang seharusnya dilalui dengan ketenangan dan istirahat mendadak berubah menjadi situasi kengerian yang luar biasa ketika kobaran api tiba-tiba terlihat membumbung tinggi dari salah satu rumah warga yang berkonstruksi semi-permanen. Embusan angin malam yang terbilang cukup kencang, ditambah dengan rapatnya jarak antarbangunan yang sebagian besar terbuat dari material kayu yang mudah terbakar, membuat si jago merah dengan sangat cepat merambat ke belasan rumah di sekitarnya tanpa ampun. Warga yang saat itu sebagian besar sedang tertidur lelap sontak berhamburan keluar rumah dengan kondisi panik, berlarian ke sana kemari berusaha menyelamatkan nyawa serta barang-barang berharga seadanya yang masih bisa dijangkau oleh tangan.
Teriakan histeris ibu-ibu dan tangisan anak-anak kecil mewarnai suasana yang seketika berubah menjadi gelap gulita setelah aliran listrik di kawasan tersebut secara otomatis terputus untuk mencegah korsleting yang lebih parah. Sayangnya, di tengah hiruk-pikuk dan kepanikan massal yang tak terkendali tersebut, korban yang merupakan penyandang disabilitas tertinggal di dalam kamarnya, tidak mampu menyelamatkan diri sendiri, dan tidak sempat dievakuasi oleh pihak keluarga maupun tetangga yang pandangannya telah terhalang oleh kepungan asap hitam pekat serta suhu panas api yang sangat menyengat kulit. Keterbatasan mobilitas fisik membuat korban sama sekali tidak berdaya menghadapi laju api yang merambat sangat cepat melahap seluruh struktur bangunan tempat tinggalnya.
Hambatan Evakuasi dan Upaya Pemadaman oleh Petugas
Dinas Pemadam Kebakaran kota setempat yang menerima panggilan darurat dari warga langsung merespons dengan menerjunkan belasan armada mobil pemadam ke lokasi kejadian. Namun, proses pemadaman di lapangan sama sekali tidak berjalan dengan mulus dan mudah. Akses jalan masuk menuju lorong permukiman yang sangat sempit menjadi kendala klasik yang kembali terulang.
Selain itu, banyaknya warga sekitar yang justru berkerumun untuk menonton dan merekam kejadian turut menghambat laju pergerakan armada pemadam dan petugas yang sedang berpacu dengan waktu. Petugas terpaksa harus menarik selang air puluhan meter dari jalan poros untuk bisa menyemprotkan air tepat ke titik api utama yang berada di tengah-tengah permukiman warga.
Penemuan Korban Jiwa di Tengah Reruntuhan
Setelah berjuang keras selama kurang lebih dua jam tanpa henti, tim pemadam akhirnya berhasil menjinakkan amukan api dan memblokir perambatannya agar tidak meluas ke area blok sebelah.
Pada saat tahap penyisiran akhir atau pendinginan (cooling down) inilah, tim relawan dan petugas pemadam menemukan jasad korban. Kondisi korban ditemukan di bawah reruntuhan puing atap rumahnya yang telah hangus terbakar. Penemuan ini sontak membuat pihak keluarga korban menangis histeris hingga beberapa di antaranya jatuh pingsan karena syok berat melihat tragedi yang merenggut nyawa orang terkasih mereka.
Jasad korban kemudian segera dievakuasi menggunakan kantong jenazah dan dibawa oleh mobil ambulans menuju rumah sakit terdekat untuk dilakukan proses identifikasi secara medis, sebelum pada akhirnya diserahkan kembali kepada pihak keluarga agar dapat dimakamkan dengan layak.
Pelajaran Berharga dari Kebakaran di Biringkanaya Makassar
Investigasi awal dari pihak kepolisian yang melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) menduga kuat bahwa korsleting listrik atau arus pendek dari salah satu rumah warga menjadi pemicu utama musibah mematikan ini. Kabel-kabel tua yang sudah tidak sesuai standar operasional dan instalasi listrik yang semrawut memang kerap menjadi “bom waktu” di berbagai kawasan padat penduduk.
Musibah tragis ini memberikan tamparan keras sekaligus pelajaran berharga bagi pemerintah daerah dan masyarakat luas. Diperlukan edukasi mitigasi bencana yang jauh lebih matang dan inklusif di lingkungan Rukun Tetangga (RT), khususnya mengenai pendataan dan prioritas penyelamatan bagi kelompok rentan seperti lansia, balita, dan penyandang disabilitas saat situasi darurat terjadi. Jangan sampai kelalaian kolektif kembali memakan korban jiwa yang tak bersalah di masa depan.