International
Tragedi di Kabul: Serangan Terhadap Restoran China dan Eskalasi Teror ISIS
Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNNIndonesia.com Dunia internasional kembali dikejutkan oleh aksi kekerasan yang melanda ibu kota Afghanistan, Kabul. Sebuah ledakan dahsyat dilaporkan menghantam sebuah restoran China yang berlokasi di pusat kota pada Senin (19/1/2026). Insiden berdarah ini mengakibatkan sedikitnya tujuh orang tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Tak lama setelah peristiwa tersebut, kelompok militan yang menamakan diri mereka Negara Islam (ISIS) melalui sayap regionalnya, ISIS-K (Khorasan), secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Detail Kejadian dan Korban
Ledakan terjadi di saat restoran tersebut sedang melayani pelanggan, yang terdiri dari warga negara asing maupun warga lokal. Berdasarkan keterangan otoritas keamanan setempat, daya ledak yang cukup besar menyebabkan kerusakan parah pada bangunan restoran dan area di sekitarnya.
• Total Korban: 7 orang dilaporkan meninggal dunia di tempat kejadian.
• Identitas Korban: Meskipun rincian kewarganegaraan belum dirilis secara penuh, lokasi tersebut dikenal sebagai tempat yang sering dikunjungi oleh ekspatriat, khususnya pekerja dari perusahaan-perusahaan asal China yang tengah menggarap proyek di Afghanistan.
• Kondisi di Lapangan: Tim medis segera dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi korban luka ke rumah sakit terdekat, sementara pasukan keamanan Taliban langsung mengisolasi area guna melakukan penyelidikan mendalam.
Klaim ISIS dan Motif di Baliknya
Klaim tanggung jawab dari ISIS-K disampaikan melalui saluran media propaganda mereka, Amaq. Kelompok ini secara eksplisit menyatakan bahwa target mereka adalah “kepentingan asing” dan mereka yang bekerja sama dengan pemerintahan saat ini. Ada beberapa poin krusial di balik pemilihan target ini:
1. Mengganggu Hubungan Diplomatik: China adalah salah satu dari sedikit negara besar yang tetap mempertahankan hubungan ekonomi dan diplomatik yang aktif dengan pemerintahan Taliban. Dengan menyerang aset atau warga China, ISIS berusaha memutus jalur investasi asing yang sangat dibutuhkan untuk stabilitas ekonomi Afghanistan.
2. Menantang Otoritas Taliban: Sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2021, Taliban terus mengeklaim bahwa mereka telah berhasil menciptakan keamanan total. Serangan spekakuler di jantung ibu kota seperti ini merupakan tamparan bagi narasi keamanan yang dibangun oleh Taliban.
3. Persaingan Ideologis: ISIS dan Taliban adalah rival bebuyutan. ISIS menganggap Taliban terlalu “lunak” atau pragmatis karena bersedia menjalin hubungan dengan negara-negara non-Muslim demi keuntungan ekonomi.
Implikasi Geopolitik dan Keamanan Regional
Insiden ini menciptakan tekanan besar bagi pemerintah China dan perusahaan-perusahaan mereka yang beroperasi di Afghanistan. Kedutaan Besar China di Kabul diyakini akan memperketat protokol keamanan bagi warganya dan menuntut jaminan keamanan yang lebih konkret dari pihak berwenang Afghanistan. Jika serangan serupa terus berulang, hal ini dikhawatirkan akan memicu eksodus investor asing, yang pada akhirnya akan memperburuk krisis kemanusiaan dan ekonomi yang sudah ada.
Hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan bagaimana bahan peledak tersebut bisa masuk ke dalam restoran, mengingat penjagaan di ibu kota biasanya sangat ketat. Keamanan di seluruh Kabul kini berada dalam status siaga tinggi untuk mengantisipasi potensi serangan lanjutan.