Nasional
Tragedi Berdarah di Gumuk Pasir: Akhir Memilukan Eks Sekjen Pordasi DKI Setelah Sepekan Penyekapan

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNNIndonesia.com Kasus kriminal yang mengguncang publik kembali terjadi dengan ditemukannya jenazah seorang pria dalam kondisi mengenaskan di kawasan Gumuk Pasir, Parangtritis, Bantul, Yogyakarta. Korban yang belakangan teridentifikasi sebagai Herlan Matrusdi (68), mantan Sekretaris Jenderal Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) DKI Jakarta, ternyata menjadi korban dari serangkaian tindakan kekerasan brutal yang terencana. Penemuan jasadnya di antara semak-semak hanyalah babak akhir dari penderitaan panjang yang dialaminya selama kurang lebih satu pekan terakhir sebelum mengembuskan napas terakhir.
Berdasarkan penyelidikan intensif pihak kepolisian, terungkap bahwa korban tidak sekadar dibunuh di lokasi penemuan mayat, melainkan telah mengalami penganiayaan sistematis berhari-hari sebelumnya. Para pelaku diduga kuat telah menculik atau menahan korban, memaksanya melewati masa-masa penyiksaan yang kejam sebelum akhirnya memutuskan untuk membuang tubuhnya yang sudah tak berdaya. Fakta ini diperkuat oleh kondisi fisik korban saat ditemukan oleh warga setempat, Marno, yang melihat tubuh pria malang tersebut tergeletak penuh luka di area yang sepi pengunjung. Luka-luka yang terdapat di sekujur tubuh korban menjadi saksi bisu betapa beratnya siksaan yang diterima sebelum ia ditinggalkan begitu saja di area Gumuk Pasir dalam kondisi sekarat atau sudah tak bernyawa.

Keluarga korban, melalui sang putri, Wiwin Puji Astuti, mengungkapkan adanya kejanggalan yang dirasakan jauh sebelum tragedi ini terungkap. Korban diketahui telah meninggalkan rumah selama berbulan-bulan dan kerap berpindah-pindah tempat tinggal, mulai dari Kediri hingga Malang, dengan alasan sedang menangani sebuah kasus sensitif yang berbahaya. Komunikasi terakhir dengan keluarga terjadi pada Agustus 2025, di mana korban tampak terburu-buru meninggalkan rumah menuju Terminal Pulo Gebang tanpa menjelaskan tujuan spesifik. Misteri semakin menebal ketika keluarga menerima kabar bohong melalui pesan grup lingkungan yang menyebutkan korban meninggal karena sakit, sebuah informasi yang sangat bertolak belakang dengan fakta bahwa korban tidak memiliki riwayat penyakit tersebut.

Pihak kepolisian kini tengah mendalami motif di balik pembunuhan sadis ini. Dugaan sementara mengarah pada masalah utang-piutang bisnis yang membelit relasi antara korban dan para pelaku. Indikasi ini diperkuat oleh pola penyekapan dan penyiksaan yang umumnya dilakukan sebagai bentuk intimidasi ekstrem dalam sengketa keuangan ilegal. Aparat penegak hukum terus mengumpulkan bukti, termasuk rekaman CCTV yang merekam detik-detik kendaraan pelaku saat hendak membuang tubuh korban, guna menyeret seluruh pihak yang terlibat dalam konspirasi keji ini ke meja hijau. Kasus ini menjadi peringatan keras akan bahaya konflik bisnis yang tidak terselesaikan dan pentingnya perlindungan hukum bagi individu yang merasa terancam keselamatannya.







