International

Tragedi Bedah di Singapura: Ketika Dalih Anatomi Tak Lazim Gagal Menutupi Kesalahan Fatal Dokter

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari international.kompas.com Dunia medis Singapura diguncang oleh kasus malapraktik serius yang melibatkan seorang ahli bedah urologi ternama, Dr. Fong Yan Kit. Kasus ini mencuat ke publik dan menjadi sorotan tajam setelah proses persidangan mengungkap detail mengerikan mengenai kesalahan prosedur operasi yang berujung pada kematian seorang pasien lansia berusia 63 tahun pada tahun 2022 lalu. Insiden ini tidak hanya memicu duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga mengundang kecaman keras dari Koroner Negara Bagian, Adam Nakhoda, yang menilai adanya kelalaian fatal dalam penanganan pasien tersebut.

Peristiwa bermula ketika Dr. Fong melakukan prosedur pembedahan untuk mengangkat tumor ginjal pada pasien. Namun, operasi yang seharusnya menjadi prosedur medis terukur berubah menjadi bencana ketika Dr. Fong melakukan kesalahan identifikasi organ vital. Alih-alih memotong pembuluh darah yang terhubung ke ginjal, ia justru memutus dua pembuluh darah utama yang sangat krusial, yaitu arteri mesenterika superior dan trunkus seliaka. Kedua pembuluh darah ini memiliki fungsi vital sebagai penyuplai darah utama ke organ lambung dan usus. Pemotongan yang keliru ini mengakibatkan gangguan fatal pada sistem peredaran darah pasien ke organ-organ pencernaan tersebut.

Dalam upaya pembelaannya di hadapan pengadilan, Dr. Fong berusaha menepis tuduhan kelalaian dengan menyalahkan kondisi tubuh pasien. Ia berdalih bahwa pasien tersebut memiliki anatomi tubuh yang “tidak lazim” atau mengalami anomali. Menurut klaimnya, keberadaan tumor ginjal berukuran 7,5 cm di tubuh pasien kemungkinan besar telah mendesak dan menggeser posisi pembuluh darah dari tempat anatomi yang seharusnya, sehingga mengecoh pengamatannya. Lebih lanjut, ia berargumen bahwa pendarahan hebat adalah hal yang lumrah terjadi dalam prosedur urologi, dan tindakannya memotong pembuluh darah tersebut adalah respons standar untuk menghentikan pendarahan, dengan keyakinan penuh bahwa yang ia potong adalah arteri ginjal.

Namun, segala pembelaan Dr. Fong tersebut dipatahkan secara telak oleh keterangan ahli medis yang dihadirkan, yakni Profesor Christopher Cheng, seorang konsultan urologi senior dari Rumah Sakit Umum Singapura (SGH). Profesor Cheng memberikan analisis medis yang tajam untuk menyanggah klaim “anatomi tak lazim” tersebut. Ia menegaskan bahwa meskipun pergeseran pembuluh darah akibat tumor memang mungkin terjadi, variasi anatomi semacam itu seharusnya sudah dapat terdeteksi dan diidentifikasi dengan jelas melalui pemindaian CT scan (computed tomography) yang wajib dilakukan sebelum operasi dimulai. Artinya, seorang dokter bedah yang kompeten seharusnya sudah memiliki peta navigasi yang jelas sebelum menyayat tubuh pasien.

Bukti-bukti lain yang memberatkan Dr. Fong juga terungkap melalui rekaman video operasi. Analisis visual menunjukkan bahwa arteri yang dipotong oleh Dr. Fong memiliki ukuran yang jauh lebih besar dan karakteristik visual yang sangat berbeda dibandingkan dengan arteri ginjal yang seharusnya ia tangani. Fakta yang paling mencengangkan dari rekaman tersebut adalah adanya momen di mana Dr. Fong terlihat berhenti melakukan tindakan selama kurang lebih 13 menit setelah melakukan pemotongan yang salah. Dalam jeda waktu yang cukup lama itu, ia sebenarnya sempat melihat keberadaan arteri ginjal kiri yang asli, namun tragisnya, ia tidak segera mengakui kesalahannya atau mengambil tindakan korektif yang diperlukan saat itu juga.

Kelalaian Dr. Fong semakin diperparah dengan tidak adanya upaya untuk mencari bantuan ahli lain. Profesor Cheng menyoroti ketiadaan bukti dokumentasi yang menunjukkan bahwa Dr. Fong berusaha meminta pendapat kedua (second opinion) atau memanggil ahli bedah vaskular—spesialis pembuluh darah—ketika situasi di meja operasi mulai tidak terkendali. Padahal, dalam situasi kritis di mana terjadi keraguan atau komplikasi tak terduga, memanggil bantuan ahli yang relevan adalah prosedur standar untuk menyelamatkan nyawa pasien. Kegagalan Dr. Fong untuk mengenali kesalahan, ditambah dengan keengganannya mencari bantuan, menjadi faktor kunci yang menyebabkan kematian tragis sang pasien.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version