Blog

Tragedi Akhir Tahun di Tol Krapyak: 16 Nyawa Melayang, Lima Korban Berjuang di Ruang Medis

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari KOMPAS.com, Suasana liburan akhir tahun diwarnai duka mendalam dengan terjadinya kecelakaan lalu lintas tunggal yang melibatkan bus PO Cahaya Trans di ruas Tol Krapyak, Semarang. Insiden maut yang terjadi baru-baru ini telah merenggut nyawa 16 penumpangnya, meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga korban.

Berdasarkan laporan terkini dari pihak kepolisian pada Selasa malam (23/12/2025), fokus penanganan saat ini tertuju pada pemulihan para korban selamat yang mengalami cedera serius. Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol M Syahduddi, mengonfirmasi bahwa dari total 17 korban luka-luka yang sempat dievakuasi, lima di antaranya masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit karena kondisi mereka yang belum stabil dan luka berat yang diderita.

Kelima pasien yang masih dirawat ini tersebar di beberapa rumah sakit rujukan utama di Semarang dan sekitarnya, termasuk RS Columbia Asia, RS Elisabeth, RSUP dr. Kariadi, dan RSUD dr. Adhyatma MPH. Kondisi medis mereka cukup memprihatinkan dan memerlukan intervensi bedah segera.

Sebagian besar korban yang bertahan ini menderita fraktur atau patah tulang di bagian kaki dan tangan, serta trauma dada yang membutuhkan pemasangan alat bantu khusus seperti Water Sealed Drainage (WSD). Salah satu korban bahkan harus dirujuk ke RSUD Orthopedi Purwokerto atas permintaan keluarga demi penanganan tulang yang lebih spesifik. Sementara itu, 12 korban luka lainnya yang kondisinya dinilai lebih ringan telah diperbolehkan pulang untuk menjalani rawat jalan.

Angka fatalitas dalam kecelakaan ini sangat mengejutkan. Sebanyak 16 orang meninggal dunia, dengan penyebab kematian utama didominasi oleh trauma berat di bagian kepala akibat benturan keras saat bus hilang kendali.

Data medis dari RSUP dr. Kariadi memperkuat temuan ini melalui hasil visum terhadap para jenazah. Salah satu korban meninggal bahkan dilaporkan mengembuskan napas terakhirnya sesaat setelah tiba di rumah sakit (death on arrival) akibat pendarahan hebat dan fraktur kompleks, meskipun tim medis telah berupaya maksimal.

Penyelidikan awal kepolisian mengungkap fakta bahwa bus nahas tersebut dikemudikan oleh seorang sopir cadangan yang berusia relatif muda, yakni 22 tahun, yang baru dua kali mengemudikan armada tersebut. Saat ini, sopir yang selamat namun mengalami luka di tangan itu telah diamankan oleh Polrestabes Semarang untuk dimintai keterangan lebih lanjut guna mengungkap kronologi pasti penyebab bus kehilangan kendali di jalur yang dikenal rawan tersebut.

Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi seluruh operator transportasi untuk lebih memperketat standar keselamatan, terutama di masa puncak perjalanan liburan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version