Tech

Terobosan Futuristik: Ambisi Tiongkok Memanen Energi Matahari dari Orbit Bumi

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com, Tiongkok kembali mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin inovasi teknologi global dengan mengumumkan kemajuan signifikan dalam proyek ambisius mereka: membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di luar angkasa. Ide yang dulunya hanya ada dalam ranah fiksi ilmiah kini selangkah lebih dekat menjadi kenyataan. Proyek yang diberi nama “Zhuri” (yang secara harfiah berarti “Mengejar Matahari”) ini bertujuan untuk mengatasi keterbatasan energi terbarukan di bumi dengan memanfaatkan potensi matahari yang tak terbatas di luar atmosfer.

Mengapa Harus di Luar Angkasa?

Selama ini, panel surya di Bumi menghadapi tantangan besar berupa siklus siang-malam, perubahan cuaca, dan gangguan atmosfer yang menghalangi sinar matahari. Hal ini membuat efisiensi PLTS konvensional tidak stabil. Namun, di luar angkasa—terutama pada orbit sinkron matahari—cahaya matahari tersedia selama 24 jam penuh tanpa terhalang awan atau debu. Intensitas cahayanya pun jauh lebih kuat. Inilah yang mendasari para ilmuwan dari Universitas Xidian di Xi’an, Tiongkok, untuk menciptakan sistem yang mampu menangkap energi tersebut dan mengirimkannya kembali ke permukaan Bumi.

Teknologi Transmisi Energi Nirkabel

Inti dari kecanggihan proyek ini terletak pada sistem transmisi energi nirkabel menggunakan gelombang mikro (microwave). Pembangkit listrik yang melayang di langit ini akan dilengkapi dengan panel surya raksasa untuk menangkap foton matahari. Energi listrik yang terkumpul kemudian dikonversi menjadi energi gelombang mikro. Gelombang ini lalu dipancarkan melalui antena pemancar menuju stasiun penerima di Bumi (yang disebut rectenna atau antena penyearah). Di stasiun bumi, gelombang mikro tersebut diubah kembali menjadi arus listrik yang siap didistribusikan ke jaringan transmisi nasional.

Berdasarkan laporan terbaru, tim peneliti di Universitas Xidian telah berhasil membangun menara baja setinggi 75 meter yang berfungsi sebagai struktur pengujian untuk pengumpulan energi dan transmisi nirkabel ini. Keberhasilan uji coba skala kecil ini membuktikan bahwa konsep transmisi energi jarak jauh melalui gelombang mikro adalah hal yang sangat mungkin dilakukan secara teknis.

Roadmap Menuju 2050

Tiongkok tidak main-main dengan rencana ini. Mereka telah menyusun peta jalan yang sistematis untuk beberapa dekade ke depan. Fase pertama melibatkan peluncuran satelit uji coba pada tingkat orbit rendah untuk mematikan teknologi transmisi dasar. Target berikutnya adalah pada tahun 2030-an, di mana mereka berharap dapat menempatkan stasiun pembangkit listrik skala menengah di orbit geostasioner.

Puncaknya, pada tahun 2050, Tiongkok menargetkan operasional stasiun pembangkit listrik tenaga surya luar angkasa skala besar yang mampu menghasilkan energi dalam hitungan gigawatt. Jika berhasil, satu stasiun ini saja bisa menyuplai energi listrik yang setara dengan pembangkit listrik tenaga nuklir besar, namun dengan risiko lingkungan yang jauh lebih minim.

Tantangan dan Signifikansi Global

Tentu saja, proyek “gila” ini bukannya tanpa tantangan. Masalah utama yang dihadapi adalah biaya peluncuran material yang sangat berat ke luar angkasa, efisiensi konversi energi agar tidak banyak yang terbuang saat transmisi, serta aspek keamanan gelombang mikro bagi lingkungan dan makhluk hidup di sekitar stasiun penerima.

Namun, signifikansi dari proyek ini melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan listrik. Ini adalah langkah strategis Tiongkok dalam mencapai target emisi nol bersih (net zero emission) dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, teknologi ini bisa menjadi solusi bagi daerah-daerah terpencil atau area bencana yang sulit dijangkau oleh infrastruktur kabel konvensional.

Dengan keberhasilan menerbangkan “pembangkit listrik ke langit”, Tiongkok tidak hanya sedang mengejar matahari, tetapi juga sedang mendefinisikan ulang masa depan energi bagi umat manusia. Dunia kini menunggu, apakah visi besar ini akan menjadi standar baru dalam kedaulatan energi global di masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version