Education
Terdapat Perbedaan Mencolok Respons Orang Tua Saat Mengetahui Anaknya Melakukan Perundungan: Sebagian Memilih Menyangkal Kenyataan, Sementara yang Lain Bijak Mencari Jalan Keluar.

Semarang (usmnews) dikutip dari detik.com Isu perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan Indonesia tampaknya masih menjadi “pekerjaan rumah” yang belum terselesaikan. Data terbaru dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melukiskan situasi yang memprihatinkan, di mana tercatat sebanyak 537 kasus perundungan terjadi di satuan pendidikan sepanjang tahun 2024. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari ratusan anak yang mengalami trauma fisik maupun psikis.
Salah satu kasus yang baru-baru ini menyita perhatian publik terjadi di Lampung, melibatkan siswa SMA. Kasus ini menjadi viral bukan hanya karena tindakan perundungannya, melainkan karena respons orang tua pelaku. Ketika ibu korban mendatangi rumah pelaku dengan penuh emosi untuk menuntut keadilan, respons orang tua pelaku justru defensif dan enggan menyalahkan anaknya. Sikap penyangkalan (denial) dari orang tua pelaku inilah yang kemudian memicu kemarahan publik.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan krusial: Bagaimana seharusnya sikap orang tua jika dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa buah hati mereka bukanlah korban, melainkan pelaku kekerasan?
Memahami Psikologi di Balik Anak yang Menjadi Pelaku Sebelum menghakimi, penting untuk memahami akar masalahnya. Psikolog klinis Dra. A. Kasandra Putranto menjelaskan bahwa perilaku anak sering kali merupakan cerminan dari apa yang mereka rasakan atau alami di lingkungan terdekatnya. Ada fenomena umum di mana anak terlihat sangat manis dan penurut di rumah, namun berubah menjadi agresif di sekolah.
Menurut Kasandra, hal ini bisa terjadi karena di rumah anak merasa terkekang, takut berekspresi, atau hidup dalam pola asuh yang terlalu otoriter. Akibatnya, emosi yang terpendam itu “meledak” di luar rumah. Saat menghadapi tekanan akademik, persaingan, atau konflik teman sebaya, mereka tidak memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik, sehingga melampiaskannya dalam bentuk intimidasi untuk mendapatkan rasa dominasi atau pengakuan yang tidak mereka dapatkan di rumah.
7 Langkah Krusial bagi Orang Tua Pelaku Bullying
Jika sekolah atau pihak lain melaporkan bahwa anak Anda melakukan perundungan, Kasandra menyarankan tujuh langkah bijak yang harus diambil demi masa depan anak dan pemulihan korban:
1.Terima Laporan dengan Kepala Dingin Naluri pertama orang tua pasti ingin membela anak. Namun, saat menerima laporan, kuncinya adalah mendengarkan tanpa membantah. Sikap defensif atau langsung menyangkal (“Anak saya tidak mungkin begitu!”) justru akan menutup jalan komunikasi dan membuat orang tua buta terhadap fakta sebenarnya
2.Fokus pada Fakta, Bukan Asumsi Tahan emosi Anda. Jangan langsung memarahi anak atau malah menyalahkan korban. Galilah informasi secara objektif: bagaimana kronologinya, siapa saja yang terlibat, dan apa konteks kejadiannya. Tujuannya adalah memahami situasi secara utuh, bukan mencari pembenaran

3. Ciptakan Ruang Diskusi yang Aman Saat mengonfirmasi kepada anak, hindari gaya interogasi layaknya polisi. Ajak anak bicara dalam suasana tenang. Pertanyaan yang memojokkan hanya akan membuat anak berbohong karena takut. Berikan ruang agar mereka mau jujur mengenai apa yang mereka lakukan dan alasannya.
4.Tanamkan Rasa Tanggung Jawab Mengakui anak bersalah bukan berarti melabelinya sebagai “anak nakal” seumur hidup. Orang tua bijak harus bisa berkata, “Setiap perbuatan yang merugikan orang lain adalah salah, dan kita harus bertanggung jawab memperbaikinya.” Ini mengajarkan konsekuensi logis atas tindakan mereka.
5.Prioritaskan Pemulihan Karakter, Bukan Hukuman Fisik Fokuslah pada perbaikan perilaku jangka panjang. Ajarkan kembali nilai-nilai empati yang mungkin sempat hilang. Dorong anak untuk meminta maaf secara tulus kepada korban, bukan sekadar formalitas. Pantau interaksi sosialnya setelah kejadian untuk memastikan tidak ada pengulangan.
6.Introspeksi Diri dan Evaluasi Situasi Rumah Ini adalah langkah terberat. Orang tua harus berani bercermin. Apakah pola asuh di rumah terlalu keras? Atau justru terlalu permisif (serba boleh)? Apakah sering terjadi konflik di rumah? Sering kali, anak mem-bully karena meniru agresi yang mereka lihat di rumah atau sebagai pelampiasan karena merasa tidak didengar oleh orang tuanya.
7.Kolaborasi dengan Pihak Sekolah Jangan memusuhi sekolah yang memberikan laporan. Sebaliknya, bangun aliansi. Tunjukkan bahwa Anda kooperatif dan siap bekerja sama untuk membina anak. Sinergi antara guru dan orang tua akan mempercepat proses perubahan perilaku anak.
Sebagai penutup, Kasandra menekankan bahwa penanganan tidak berhenti pada permintaan maaf. Anak yang menjadi pelaku bullying sering kali membutuhkan bimbingan lanjutan, seperti konseling keluarga atau pelatihan manajemen emosi, agar rantai kekerasan ini benar-benar terputus.







