International

Teheran Cium Aroma Konspirasi: Iran Tuding AS dan Israel Sebagai Aktor Intelektual di Balik Pelabelan Teroris Garda Revolusi

Published

on

Semarang (usmnews) – Ketegangan diplomatik antara Iran dan blok Barat kembali memuncak setelah munculnya wacana dan keputusan dari sejumlah negara Barat untuk memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris.

Menanggapi langkah agresif tersebut, Pemerintah Iran melalui Kementerian Luar Negeri mengeluarkan pernyataan keras yang tidak hanya menolak pelabelan itu, tetapi juga menuding adanya “tangan-tangan asing” yang bermain di balik layar. Teheran secara spesifik menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang utama atau arsitek di balik kampanye global untuk mendiskreditkan angkatan bersenjata resmi mereka.

Dalam pandangan Teheran, keputusan negara-negara Eropa atau Barat lainnya untuk melabeli Garda Revolusi sebagai entitas teroris bukanlah keputusan yang berdiri sendiri atau independen. Iran menilai langkah tersebut merupakan hasil dari tekanan lobi politik yang intensif dan kampanye sistematis yang dirancang oleh Washington dan Tel Aviv.

Pejabat Iran menyebut manuver ini sebagai proyek politik yang bertujuan untuk mengisolasi Iran di panggung internasional sekaligus menutupi kegagalan-kegagalan kebijakan luar negeri AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.

Lebih jauh, Iran berargumen bahwa pelabelan teroris terhadap sebuah institusi militer resmi dari negara yang berdaulat adalah tindakan yang tidak memiliki dasar hukum yang kuat dalam hukum internasional (ilegal). Garda Revolusi, menurut konstitusi Iran, adalah bagian integral dari angkatan bersenjata negara yang memiliki tugas sah untuk melindungi keamanan nasional dan integritas wilayah. Oleh karena itu, Iran menilai upaya kriminalisasi terhadap IRGC merupakan preseden buruk yang berbahaya dalam hubungan antarnegara dan melanggar piagam PBB.

Selain aspek legalitas, Iran juga menyoroti motif pengalihan isu. Teheran meyakini bahwa desakan AS dan Israel ini sengaja digencarkan saat ini untuk mengalihkan perhatian dunia dari krisis kemanusiaan dan dugaan kejahatan perang yang terjadi di Jalur Gaza. Dengan memframing Iran dan Garda Revolusi sebagai “sumber teror”, Israel dan sekutunya dianggap berusaha membelokkan opini publik global agar tidak lagi fokus pada penderitaan rakyat Palestina. Sebagai penutup, Pemerintah Iran memberikan peringatan tegas bahwa mereka tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan ini. Teheran menyatakan haknya untuk mengambil langkah balasan (reciprocal action) yang setimpal terhadap negara-negara yang nekat menetapkan Garda Revolusi sebagai teroris. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa jika label tersebut diresmikan, hubungan diplomatik dan keamanan di kawasan Timur Tengah berpotensi menjadi semakin tidak stabil.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version