Tech
Tantangan Literasi Digital: Mengapa Kelompok Usia 30 Plus Menjadi Prioritas Belajar AI Menurut Wamen Stella Christie?

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Kompas.com, Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, memberikan pandangan yang menarik mengenai siapa yang paling krusial untuk mempelajari Kecerdasan Buatan (AI) saat ini. Menurutnya, fokus edukasi AI tidak boleh hanya tertuju pada generasi muda atau pelajar, melainkan justru harus diprioritaskan bagi mereka yang telah berusia 30 tahun ke atas.
Kelompok 30+ sebagai Penggerak Utama Ekonomi

Pandangan Stella Christie didasari oleh realitas bahwa kelompok usia 30 tahun ke atas saat ini merupakan tulang punggung dunia kerja dan pengambil keputusan di berbagai sektor industri. Berbeda dengan generasi Z atau generasi yang lebih muda yang sering disebut sebagai digital natives, kelompok usia yang lebih senior ini memiliki tantangan adaptasi yang lebih besar.
Wamen Stella menekankan bahwa para profesional di usia produktif matang ini perlu memahami AI untuk tetap relevan dan kompetitif. Jika mereka tidak menguasai teknologi ini, ada risiko kesenjangan efisiensi yang besar antara cara kerja tradisional dengan tuntutan industri modern yang serba cepat dan berbasis data.
AI sebagai Alat Kognitif, Bukan Pengganti Manusia
Sebagai seorang ahli ilmu kognitif, Stella Christie memandang AI bukan sebagai ancaman yang akan menggantikan peran manusia secara total, melainkan sebagai “alat kognitif” (cognitive tool). Ia mengibaratkan AI seperti kalkulator atau mesin tik di masa lalu; sebuah alat yang diciptakan oleh kecerdasan manusia untuk memperluas kapabilitas otak manusia itu sendiri.
Bagi mereka yang berusia 30 tahun ke atas, mempelajari AI bukan berarti harus menjadi pemrogram atau ahli teknis. Poin utamanya adalah memahami logika dan kapabilitas AI agar dapat digunakan untuk mengoptimalkan pekerjaan, meningkatkan kreativitas, dan mempermudah proses pengambilan keputusan yang kompleks.
Urgensi Adaptasi di Dunia Kerja
Salah satu pesan kuat yang disampaikan adalah bahwa ketakutan akan kehilangan pekerjaan akibat AI dapat diredam dengan peningkatan literasi. Stella menyatakan bahwa ancaman sesungguhnya bukanlah AI itu sendiri, melainkan individu yang mampu menggunakan AI yang akan menggantikan mereka yang tidak mau belajar.
Oleh karena itu, pemerintah melalui kementerian terkait mendorong adanya ekosistem pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning). Kelompok usia dewasa diharapkan tidak lagi merasa asing dengan teknologi ini, melainkan menjadikannya mitra kerja untuk meningkatkan produktivitas nasional. Penguasaan AI di usia matang akan memberikan kombinasi yang sangat kuat antara pengalaman kerja yang mendalam dengan efisiensi teknologi mutakhir.
Penutup: Mengubah Pola Pikir
Melalui pernyataan ini, Stella Christie mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir bahwa belajar teknologi baru hanya milik anak muda.
Justru, kematangan pengalaman yang dimiliki oleh orang berusia 30 tahun ke atas akan menjadi jauh lebih bernilai jika dipadukan dengan kecanggihan AI. Literasi AI bagi orang dewasa adalah investasi strategis untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain aktif dalam revolusi industri ke-4.







