Connect with us

Education

Tantangan Kesehatan Mental di Balik Popularitas ChatGPT: Respons dan Dilema OpenAI

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip Merdeka.com Raksasa kecerdasan buatan, OpenAI, menghadapi tantangan signifikan terkait kesehatan mental penggunanya, meskipun popularitas produk andalannya, ChatGPT, terus meroket. Perusahaan ini mengklaim bahwa sekitar 10 persen dari populasi global menggunakan chatbot tersebut setiap minggunya. Namun, di balik angka adopsi yang masif ini, muncul data mengkhawatirkan yang mengindikasikan adanya isu kesehatan mental di kalangan pengguna yang berinteraksi dengan AI.

​Berdasarkan temuan terkini, persentase yang sama—yakni sekitar 10 persen pengguna aktif mingguan—menunjukkan adanya gejala “ketergantungan emosional terhadap AI.” Jika dikonversi ke skala global, angka ini setara dengan hampir tiga juta orang setiap minggunya yang mengembangkan ikatan emosional atau ketergantungan yang tidak sehat pada ChatGPT.

Data internal perusahaan, yang diungkapkan oleh laporan Gizmodo, semakin memperkuat kekhawatiran ini dengan memaparkan metrik spesifik terkait masalah kejiwaan yang lebih serius. Sekitar 0,07 persen pengguna aktif mingguan menunjukkan indikasi masalah kesehatan mental yang berhubungan dengan psikosis, yang jika dihitung setara dengan kurang lebih 560.000 pengguna setiap minggu. Selain itu, dari total 18 miliar pesan yang telah dikirim ke ChatGPT, sekitar 1,8 juta pesan teridentifikasi mengandung gejala psikosis. Data juga mencatat bahwa 0,15 persen pesan menunjukkan tanda-tanda keterikatan emosional yang kuat pada chatbot, mencapai estimasi 5,4 juta pesan per minggu.

OpenAI tidak tinggal diam menanggapi isu serius ini, terutama setelah muncul insiden tragis bunuh diri seorang remaja 16 tahun yang didahului dengan permintaan nasihat dari ChatGPT. Sebagai langkah mitigasi, perusahaan mengklaim telah menggandeng 170 ahli kesehatan mental untuk memperkuat dan meningkatkan kualitas respons ChatGPT, khususnya bagi pengguna yang berada dalam situasi rentan atau krisis. Upaya ini diklaim berhasil mengurangi respons yang dianggap “tidak sesuai” dengan perilaku yang diharapkan sebesar 65 hingga 80 persen. Perbaikan lain yang dilakukan mencakup peningkatan kemampuan sistem untuk meredakan percakapan yang intens dan secara efektif mengarahkan pengguna ke layanan profesional atau hotline krisis.

Selain intervensi dalam sistem respons, OpenAI juga menerapkan langkah pencegahan berupa pengingat kepada pengguna untuk mengambil waktu istirahat setelah menggunakan ChatGPT dalam jangka waktu yang lama. Meskipun demikian, perusahaan mengakui keterbatasannya, menyatakan bahwa sistem tidak memiliki wewenang untuk memaksa pengguna menghubungi dukungan atau membatasi akses mereka secara permanen.

Namun, di tengah upaya perbaikan ini, komitmen penuh OpenAI terhadap keselamatan mental penggunanya dipertanyakan. Perusahaan telah memperketat fitur untuk pengguna di bawah umur, tetapi di saat yang sama, mereka masih mempertahankan kebijakan yang memungkinkan ChatGPT memiliki “kepribadian” dan bahkan kemampuan untuk menciptakan konten erotis. Hal ini menciptakan dilema etika dan tantangan besar bagi OpenAI dalam menyeimbangkan inovasi teknologi yang terus berkembang dengan tanggung jawab sosial untuk melindungi kesejahteraan psikologis komunitas penggunanya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *