Education

Tanpa Disadari, 5 Kebiasaan Harian Ini Memicu Pembentukan Batu Ginjal

Published

on

Semarang (usmnews) dikutip dari Cnbc indonesia Ginjal memegang peranan vital yang tak tergantikan dalam menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. Organ ini bekerja tanpa henti sebagai sistem filtrasi utama tubuh, menyaring darah untuk membersihkan racun, limbah metabolisme, dan kelebihan cairan, yang kemudian dikeluarkan melalui urine. Fungsi penyaringan ini krusial agar tubuh tetap berada dalam kondisi seimbang dan sehat.

Sayangnya, banyak orang sering mengabaikan kesehatan ginjal dan tanpa sadar terlibat dalam kebiasaan sehari-hari yang justru merusaknya secara perlahan. Jika kebiasaan-kebiasaan merugikan ini terus dipertahankan, beban kerja ginjal akan meningkat dan dapat berujung pada kondisi serius, salah satunya adalah pembentukan batu ginjal.

Dr. Craig Herman, seorang Spesialis Urologi dari Urology Center of Florida, menjelaskan bahwa batu ginjal pada dasarnya adalah endapan keras dan padat. Endapan ini terbentuk ketika mineral dan garam—yang seharusnya larut dalam urine—malah mengendap dan mengkristal di dalam saluran kemih. Meskipun kondisi ini dapat menyerang siapa saja di segala usia, data menunjukkan bahwa batu ginjal lebih sering terjadi pada individu yang telah memasuki usia 30 tahun, dan risiko pembentukannya cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.

Proses Pembentukan Batu Ginjal
Secara alami, urine kita mengandung berbagai produk limbah, termasuk zat-zat seperti kalsium, oksalat, dan asam urat. Pada kondisi ideal, zat-zat ini tetap larut berkat jumlah cairan (air) yang cukup dalam urine dan akan dikeluarkan dari tubuh saat kita buang air kecil.

Masalah muncul ketika urine menjadi terlalu pekat atau terkonsentrasi. Ini terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup cairan untuk mengencerkan produk limbah tersebut. Akibatnya, kadar zat pembentuk kristal ini menjadi jenuh, membuatnya tidak lagi bisa larut. Mereka mulai mengendap, saling menempel, dan mengkristal, membentuk apa yang kita kenal sebagai batu ginjal.

Penyebab utamanya jelas: ketidakseimbangan antara jumlah cairan pelarut dan jumlah zat pembentuk kristal. Meskipun tidak ada penyebab tunggal, berbagai faktor dan kebiasaan gaya hidup berkontribusi terhadap kondisi ini.

Berikut adalah lima kebiasaan utama yang secara signifikan meningkatkan risiko pembentukan batu ginjal, seperti yang diuraikan oleh Urology Center of Florida.

5 Kebiasaan yang Memicu Batu Ginjal

  1. Mengabaikan Berat Badan (Obesitas) Terdapat hubungan metabolik yang erat antara obesitas dan peningkatan risiko batu ginjal. Obesitas sering kali terkait dengan resistensi insulin. Kondisi ini dapat mengubah komposisi kimia urine, khususnya menyebabkan pH urine menjadi rendah (lebih asam). Lingkungan urine yang asam ini sangat ideal untuk pembentukan batu jenis asam urat. Selain itu, obesitas juga memicu tubuh memproduksi lebih banyak asam urat, yang berarti ginjal harus menyaring dan mengeluarkan asam urat dalam jumlah lebih tinggi, sehingga meningkatkan risiko pengendapan.
  2. Pola Makan Tinggi Garam dan Gula Pola makan modern sering kali menjadi biang keladi. Selain berkontribusi pada kenaikan berat badan, konsumsi garam (natrium) dan gula berlebih secara langsung memasukkan bahan kimia pembentuk batu ke dalam tubuh.

Garam: Konsumsi garam yang tinggi memaksa ginjal bekerja lebih keras dan meningkatkan jumlah kalsium yang dibuang ke dalam urine. Semakin tinggi kadar kalsium dalam urine, semakin besar kemungkinan kalsium itu akan mengikat oksalat dan membentuk batu kalsium oksalat.

Gula: Fruktosa, yang banyak ditemukan dalam gula pasir dan sirup jagung fruktosa tinggi, juga telah terbukti berkontribusi signifikan terhadap pembentukan batu ginjal.

  1. Konsumsi Protein Hewani Berlebihan Diet yang terlalu kaya akan protein hewani—seperti daging merah, daging unggas, telur, produk susu, dan makanan laut (seafood)—dapat meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh. Makanan-makanan ini tinggi akan purin, yang oleh tubuh akan dimetabolisme menjadi asam urat. Lonjakan kadar asam urat dalam urine merupakan faktor risiko utama pembentukan batu asam urat.
  2. Konsumsi Makanan Kaya Oksalat (Tanpa Moderasi) Ironisnya, bukan hanya makanan “tidak sehat” yang dapat menimbulkan masalah. Oksalat adalah senyawa alami yang terdapat dalam banyak makanan yang dianggap sehat, seperti buah-buahan tertentu, sayuran (misalnya bayam), dan kacang-kacangan. Bagi orang yang rentan, konsumsi oksalat berlebih dapat menyebabkan pembentukan kristal, karena oksalat dapat mengikat kalsium di ginjal. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui kadar oksalat dalam makanan dan mengonsumsinya secara seimbang.
  3. Kurang Minum Air (Dehidrasi) Ini adalah faktor paling mendasar dan paling umum. Meskipun dehidrasi bisa disebabkan oleh kondisi medis, kebanyakan kasus batu ginjal terjadi pada orang yang sehat namun tidak minum cukup air putih. Kekurangan air adalah akar dari pemekatan urine. Tanpa air yang cukup untuk melarutkan limbah, konsentrasi zat pembentuk kristal akan melonjak drastis. Kebiasaan minum yang cukup ini menjadi sangat penting, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah beriklim hangat atau sering beraktivitas fisik.

Faktor Tak Terkontrol
Penting untuk diingat bahwa tidak semua faktor risiko berada dalam kendali kita. Misalnya, jika Anda memiliki riwayat keluarga (genetik) dengan batu ginjal, risiko Anda akan lebih tinggi. Demikian pula, seperti yang telah disebutkan, risiko secara alami meningkat seiring bertambahnya usia.

Namun, jika Anda memiliki faktor risiko yang tidak dapat diubah ini, justru menjadi lebih penting bagi Anda untuk lebih berhati-hati dan proaktif. Anda harus mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan faktor-faktor yang bisa Anda kontrol, yaitu lima kebiasaan gaya hidup yang telah diuraikan di atas, demi menjaga kesehatan ginjal Anda.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version