Business
Strategi Agresif 2026: BMW Pangkas Harga Besar-besaran di China, i7 Turun Hingga Rp 660 Juta

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com Memasuki awal tahun 2026, raksasa otomotif asal Jerman, BMW, mengambil langkah drastis di pasar otomotif terbesar di dunia, China. Dalam upaya untuk mempertahankan daya saing di tengah gempuran merek lokal yang semakin dominan, BMW mengumumkan pemotongan harga rekomendasi (MSRP) secara resmi untuk lebih dari 30 model inti mereka. Kebijakan ini mulai berlaku efektif sejak 1 Januari 2026 dan dinilai sebagai salah satu penyesuaian harga paling agresif yang pernah dilakukan pabrikan Eropa tersebut di Tiongkok. Penurunan Fantastis pada Lini FlagshipSorotan utama dari kebijakan “banting harga” ini tertuju pada lini kendaraan listrik termewah mereka, yakni BMW i7. Varian tertinggi, BMW i7 M70L, mengalami pemangkasan harga yang sangat signifikan sebesar 301.000 Yuan. Jika dikonversikan ke dalam mata uang Indonesia, penurunan ini setara dengan Rp 660 jutaan.
Penurunan tersebut mengubah harga jual i7 M70L dari sebelumnya 1,899 juta Yuan menjadi 1,598 juta Yuan. Langkah ini bukan sekadar diskon dealer, melainkan revisi harga resmi pabrikan yang menandakan betapa seriusnya tekanan yang dihadapi segmen mobil mewah di sana. Tidak hanya varian listrik, seri sedan flagship bermesin konvensional (ICE) seperti BMW Seri 7 juga terkena dampak. Model 735Li dan 740Li mengalami koreksi harga sekitar 12%, membuat sedan para eksekutif ini menjadi jauh lebih terjangkau dibandingkan harga peluncurannya. Diskon Terbesar di Segmen Entry-Level. Meskipun nominal penurunan terbesar ada pada i7, persentase pemotongan harga tertinggi justru dialami oleh SUV listrik kompak, BMW iX1.

Varian iX1 eDrive25L mencatatkan penurunan harga hingga 24%. Harganya terjun bebas dari kisaran 299.900 Yuan menjadi 228.000 Yuan (sekitar Rp 500 jutaan jika dikonversi langsung).Harga baru ini menempatkan BMW iX1 head-to-head dengan mobil listrik buatan merek lokal China yang selama ini mendominasi pasar berkat harga yang lebih miring dan fitur teknologi canggih. Langkah ini seolah menjadi sinyal bahwa BMW tidak lagi hanya mengandalkan prestise merek, tetapi juga harus bersaing secara harga (price-competitive) untuk merebut hati konsumen muda di China. Alasan di Balik “Perang Harga”Keputusan BMW untuk memangkas harga puluhan modelnya tidak lepas dari kondisi pasar otomotif China yang sangat brutal (“Red Ocean”). Merek-merek lokal seperti BYD, Nio, dan Xpeng terus menggerus pangsa pasar mobil asing dengan menawarkan kendaraan listrik berteknologi tinggi dengan harga yang jauh lebih ekonomis.

Selain itu, penjualan mobil mewah di China dilaporkan mengalami perlambatan momentum. Konsumen kini semakin kritis dan cenderung memilih kendaraan yang memberikan value for money terbaik, terlepas dari logo mereknya. Analis industri menilai langkah BMW ini sebagai upaya “bertahan hidup” untuk menjaga volume penjualan agar tidak terus merosot di tahun 2026.Klaim Resmi BMW: “Systematic Value Upgrade”Menariknya, dalam pernyataan resminya, pihak BMW China menolak menyebut langkah ini sebagai partisipasi dalam “perang harga” (price war). Mereka lebih memilih menggunakan istilah korporat “Systematic Value Upgrade” atau peningkatan nilai sistematis. BMW berdalih bahwa penyesuaian ini dilakukan untuk menurunkan ambang batas kepemilikan kendaraan BMW, meningkatkan afinitas merek, dan merespons perubahan struktur pasar secara proaktif. Terlepas dari istilah yang digunakan, realitanya jelas: pasar China telah memaksa pemain lama sekelas BMW untuk menuruni takhta harga tinggi mereka demi tetap relevan dalam kompetisi kendaraan listrik yang semakin ganas.







