Connect with us

International

Skandal Privasi di India: Ribuan Rekaman CCTV, Termasuk dari Rumah Sakit Bersalin, Diretas dan Dijual di Telegram

Published

on

Jakarta (usmnews) – Dikutip dari detik.com Sebuah insiden peretasan besar yang menargetkan privasi pasien telah terjadi di India. Rekaman video sensitif dari kamera CCTV di sebuah rumah sakit bersalin dilaporkan telah dicuri oleh peretas. Menurut kepolisian setempat, materi yang seharusnya rahasia tersebut kemudian diperjualbelikan secara terbuka melalui aplikasi pesan Telegram.

Penyelidikan ini bermula ketika polisi di negara bagian Gujarat, sejak awal tahun 2025, menemukan klip video dari ruang bersalin beredar di platform YouTube. Video-video tersebut secara eksplisit menampilkan pasien wanita hamil yang sedang menjalani berbagai prosedur medis, termasuk pemeriksaan dan proses penyuntikan. Klip di YouTube itu ternyata hanya berfungsi sebagai “umpan” atau iklan, yang kemudian menyertakan tautan untuk mengarahkan pemirsa ke saluran khusus di Telegram. Di sanalah para pelaku menawarkan penjualan rekaman video dengan durasi yang lebih panjang.

Pihak berwenang menyebut kasus ini sebagai bagian dari jaringan kejahatan dunia maya yang sangat masif. Diperkirakan rekaman dari sekitar 50.000 kamera CCTV di seluruh penjuru negeri telah dicuri oleh peretas dan dijual secara daring. Insiden ini menyoroti kerentanan besar di negara di mana penggunaan CCTV telah menjadi pemandangan umum. Kamera pengawas kini terpasang di hampir setiap ruang publik dan privat, mulai dari pusat perbelanjaan, perkantoran, rumah sakit, sekolah, hingga di dalam kompleks apartemen dan bahkan rumah pribadi.

Para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa meskipun bertujuan meningkatkan keamanan, sistem CCTV yang dipasang atau dikelola dengan buruk justru menciptakan ancaman privasi yang serius. Di India, banyak kamera diawasi oleh staf yang tidak memiliki pelatihan keamanan siber yang memadai. Selain itu, beberapa model kamera buatan lokal dilaporkan memiliki kerentanan bawaan yang membuatnya sangat mudah dieksploitasi oleh peretas.

Sejarah peretasan serupa telah beberapa kali terjadi di India. Pada tahun 2018, seorang pekerja teknologi di Bengaluru melaporkan kamera webnya diretas dan pelaku meminta uang tebusan agar video pribadinya tidak disebar. Pada 2023, seorang YouTuber ternama baru menyadari CCTV rumahnya diretas setelah video pribadinya viral di internet.

Menanggapi risiko ini, pemerintah federal tahun lalu sebenarnya telah menginstruksikan negara-negara bagian untuk menghindari pembelian CCTV dari pemasok yang memiliki riwayat pelanggaran data dan keamanan. Aturan baru untuk memperketat keamanan siber kamera juga telah diperkenalkan, namun insiden peretasan terbukti masih terus berlanjut.

Dalam kasus di Gujarat, polisi menyatakan telah mengungkap jaringan pelaku yang tersebar di berbagai negara bagian. Lavina Sinha, Kepala Departemen Kejahatan Siber Ahmedabad, menyatakan bahwa kelompok ini tidak hanya meretas sistem rumah sakit, sekolah, dan kantor, tetapi juga “bahkan kamar tidur individu”.

Pejabat tinggi kejahatan dunia maya Gujarat, Hardik Makadiya, merinci bahwa video-video tersebut dijual dengan harga berkisar 800 hingga 2.000 rupee (setara Rp 150.000 hingga Rp 377.000). Lebih parahnya lagi, saluran Telegram tersebut juga menawarkan akses siaran langsung (live feed) dari CCTV yang diretas melalui skema berlangganan.

Polisi telah menjerat para pelaku dengan berbagai pasal berlapis, termasuk pelanggaran privasi pasien perempuan, penyebaran materi cabul, voyeurisme, dan terorisme siber—sebuah pelanggaran serius yang tidak memungkinkan pembebasan dengan jaminan. Pihak berwenang telah menghubungi YouTube dan Telegram, dan video-video tersebut kini telah dihapus dari platform.

Sejak Februari, delapan orang telah ditangkap terkait kasus ini, yang berasal dari berbagai wilayah termasuk Maharashtra, Uttar Pradesh, Gujarat, Delhi, dan Uttarakhand. Mereka tetap ditahan selama proses pengadilan. Namun, Yash Koshti, pengacara yang mewakili tiga terdakwa, menyangkal tuduhan tersebut dan mengklaim bahwa kliennya bukanlah peretas yang melakukan pelanggaran tersebut.

Penyelidik kejahatan dunia maya Ritesh Bhatia kembali mengingatkan bahwa CCTV dan jaringan rumah yang tidak dilindungi adalah target yang sangat mudah. Ia menyarankan langkah sederhana namun krusial bagi publik: segera mengubah alamat IP dan kata sandi default (bawaan pabrik) untuk mengamankan sistem pengawasan mereka.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *