International

Simbolisme Kedaulatan di Tanah Es

Published

on

Semarang (usmnews) Dikutip dari detik.com, Kunjungan Raja Frederik X ke wilayah otonom Denmark ini membawa pesan diplomasi yang sangat jelas: Greenland adalah bagian tak terpisahkan dari Kerajaan Denmark. Dalam perjalanannya, Sang Raja mengunjungi berbagai komunitas lokal, mulai dari ibu kota Nuuk hingga wilayah-wilayah terpencil di pesisir utara. Kehadiran monarki di sana berfungsi sebagai perekat emosional dan politik antara Kopenhagen dan masyarakat lokal Greenland yang memiliki pemerintahan sendiri.

Kunjungan ini dilakukan di tengah kembali menguatnya wacana “pembelian” Greenland oleh Presiden AS, Donald Trump. Sebagaimana diketahui, Trump sejak periode pertamanya telah menunjukkan ketertarikan yang tidak lazim terhadap pulau terbesar di dunia ini, memandangnya bukan hanya sebagai wilayah geografis, melainkan sebagai aset “real estat” strategis yang sangat berharga.

Ambisi Geopolitik dan “Real Estat” Trump

Bagi Washington, Greenland bukan sekadar hamparan salju. Secara strategis, pulau ini memiliki nilai yang tak ternilai:

  • Pertahanan Global: Keberadaan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik (sebelumnya pangkalan udara Thule) merupakan kunci sistem peringatan dini rudal balistik AS.
  • Kekayaan Alam: Di bawah lapisan esnya, Greenland menyimpan cadangan mineral langka (rare earth elements) yang sangat dibutuhkan untuk teknologi modern dan energi hijau, komoditas yang saat ini didominasi oleh China.
  • Jalur Pelayaran: Dengan mencairnya es Arktik, jalur pelayaran baru terbuka, memperpendek rute perdagangan antara Samudra Atlantik dan Pasifik.

Trump secara terang-terangan menghidupkan kembali ide untuk mengakuisisi Greenland, sebuah langkah yang oleh pemerintah Denmark dan otoritas lokal Greenland disebut sebagai gagasan yang “absurd” dan tidak masuk akal dalam konteks hukum internasional modern.

Respons Denmark dan Masyarakat Lokal

Pemerintah Denmark, yang didukung oleh sentimen rakyat Greenland, secara konsisten menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual. Kunjungan Raja Frederik X menjadi penegasan bahwa hubungan antara Denmark dan Greenland didasarkan pada kemitraan sejarah dan konstitusi, bukan transaksi komersial.

Meskipun Greenland memiliki keinginan kuat untuk kemerdekaan penuh di masa depan, mayoritas elit politik di Nuuk lebih memilih proses dekolonisasi yang mandiri daripada berpindah tangan ke bawah kendali Amerika Serikat. Mereka menyadari bahwa di balik tawaran ekonomi AS, terdapat risiko hilangnya identitas budaya dan kontrol atas sumber daya alam mereka sendiri.

Kesimpulan: Catur Geopolitik di Kutub Utara

Langkah Raja Denmark ini membuktikan bahwa diplomasi simbolis masih memiliki taring di era politik transaksional. Dengan mengunjungi titik-titik krusial di Greenland, Denmark mengirimkan sinyal kepada Gedung Putih bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak bisa dinilai dengan dolar, seberapapun besarnya angka yang ditawarkan. Greenland kini berada di pusat “papan catur” Arktik, di mana identitas lokal, kepentingan Eropa, dan ambisi Amerika Serikat saling berbenturan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version