Connect with us

Nasional

Senja Kala Menara Saidah: Potret Kemegahan yang Membeku di Jantung Jakarta

Published

on

Jakarta (usmnews) – Di tengah denyut nadi Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, yang tak pernah tidur oleh lalu lintas kendaraan, sebuah struktur ironis berdiri membisu seakan menolak ikut berlari bersama waktu. Itulah Menara Saidah. Bangunan yang pernah menjadi lambang prestise dengan arsitektur Romawi klasik—lengkap dengan tiang-tiang korintus yang gagah—kini hanyalah gema redup dari kemegahan masa lalunya. Kemegahan itu perlahan terkikis oleh pesatnya modernisasi Ibu Kota yang tumbuh di sekelilingnya.

Padahal, pada awal milenium baru, gedung setinggi 28 lantai ini pernah dicanangkan sebagai ikon kemajuan dan simbol kebangkitan kawasan bisnis strategis Cawang. Namun, takdir berkata lain. Hampir dua puluh tahun berselang sejak masa jayanya, Menara Saidah telah bertransformasi fungsi. Bukan lagi sebagai pusat bisnis yang sibuk, melainkan sebagai monumen yang menyimbolkan persoalan pelik yang mengakar di Jakarta.

Foto: Merdeka.com

Keberadaannya yang terbengkalai dan terabaikan menelanjangi kerumitan dalam manajemen tata ruang urban, sekaligus menjadi cermin betapa lemahnya penegakan hukum terhadap aset-aset properti bernilai tinggi yang dibiarkan mangkrak.

Berdasarkan laporan penelusuran lapangan oleh Kompas.com pada Jumat, 7 November 2025, kondisi menara ini tak ubahnya sebuah artefak kota yang sengaja dilupakan. Publik yang melintas dipisahkan oleh sebuah perisai visual. Pagar seng setinggi dua meter, dengan warna abu-abu pudar yang kusam, membentang kokoh di sepanjang sisi jalan, seolah menyembunyikan realitas di baliknya. Peringatan tegas tertulis dengan cat merah menyala: “DILARANG MASUK”.

Pemandangan ke arah gedung semakin terhalang oleh struktur jalur Lintas Raya Terpadu (LRT) yang menjulang modern, kontras dengan bangunan tua di belakangnya. Ironisnya, tepat di bawah jalur LRT itu, Halte Busway Cawang menjadi titik komuter yang sibuk. Ribuan orang setiap hari berlalu-lalang, hanya berjarak beberapa meter dari pagar tersebut, namun terisolasi dari cerita dan kesunyian yang ada di baliknya.

Ketika seseorang diizinkan melintasi gerbang seng itu, realitas seketika berubah drastis. Suara hiruk pikuk jalan raya langsung tergantikan oleh kesunyian yang mencekam. Atmosfer yang terasa hanyalah keheningan, yang sesekali dipecahkan oleh dengung samar kendaraan dari kejauhan serta lolongan anjing penjaga yang dipelihara di bawah naungan pohon rimbun yang tumbuh tak terurus di area lobi.

Foto: Okezone.com

Kehidupan manusia di sana diwakili oleh dua pos jaga kecil di kedua sisi gerbang. Kondisinya pun tak kalah memprihatinkan, terbuat dari kayu yang mulai lapuk dan atap yang di beberapa bagian telah bocor. Juliadi, seorang penjaga berusia 40 tahun yang telah mengabdi di sana sejak 2014, menjelaskan rutinitasnya. Ia bersama tiga rekannya bergantian menjaga siang dan malam. Tugas utamanya sederhana: memastikan tidak ada yang menerobos masuk tanpa izin. “Banyak anak muda yang penasaran,” tutur Juliadi, “kadang mereka nekat mencoba memanjat pagar.”

Bukti kejayaan masa lalu kini terkubur oleh alam dan kelalaian. Di area halaman depan, lantai marmer yang seharusnya berkilau kini tak terlihat lagi. Permukaannya tertutup lapisan debu tebal, bercampur dengan serpihan genting yang jatuh dan tumpukan dedaunan kering. Alam mulai mengambil alih; rumput liar dengan paksa menembus sela-sela ubin marmer, menciptakan lanskap liar yang menelan keanggunan arsitektur Eropa klasik yang dulu menjadi kebanggaannya.

Fasad utama gedung masih menunjukkan sisa kemegahannya: enam pilar raksasa berwarna hijau tua masih berdiri, namun ukiran emas yang dulu menghiasinya telah lama pudar. Ornamen-ornamen lain, seperti yang berbentuk bunga teratai di atap lobi, kini telah menghitam legam, kalah oleh jamur dan paparan cuaca ekstrem selama bertahun-tahun diabaikan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *