Education
Seni Mengolah Telur: Antara Nutrisi, Keamanan, dan Tekstur
Semarang (usmnews) – Dikutip dari detik.com Telur sering kali dijuluki sebagai superfood karena fleksibilitasnya di dapur dan kandungan gizinya yang luar biasa. Namun, perdebatan mengenai cara konsumsi terbaik—apakah mentah atau matang—masih sering memicu kebingungan di masyarakat. Sebagian orang percaya bahwa suhu panas saat memasak dapat merusak nutrisi alami telur, sehingga mereka memilih mengonsumsinya mentah-mentah. Padahal, jika kita meninjau dari sisi sains kesehatan, faktanya justru menunjukkan hal sebaliknya. Salah satu poin krusial dalam perdebatan ini adalah keberadaan protein bernama avidin pada telur mentah. Avidin memiliki sifat unik namun merugikan jika dikonsumsi berlebih, yaitu mampu mengikat biotin (salah satu jenis vitamin B) dengan sangat kuat. Biotin sendiri berperan vital dalam metabolisme energi serta menjaga kesehatan rambut dan kulit.
Ketika Anda makan telur mentah, avidin akan menghalangi tubuh dalam menyerap biotin tersebut. Kabar baiknya, proses pemanasan atau memasak telur akan mengubah struktur avidin sehingga ia kehilangan kemampuannya untuk mengikat biotin. Selain itu, penelitian ilmiah menegaskan bahwa protein dalam telur yang sudah dimasak jauh lebih mudah dipecah oleh enzim pencernaan kita. Dengan kata lain, tubuh kita jauh lebih efektif menyerap asam amino dari telur dadar atau telur rebus dibandingkan dari telur yang diminum mentah. Keamanan pangan adalah alasan utama mengapa pakar kesehatan sangat menyarankan untuk memasak telur hingga matang. Telur mentah memiliki risiko tinggi terkontaminasi bakteri Salmonella enteritidis.
Bakteri ini tidak hanya menempel pada cangkang, tetapi juga bisa menembus hingga ke dalam telur.Infeksi Salmonella bukan perkara sepele; ia dapat menyebabkan gangguan pencernaan hebat seperti diare, mual, demam, hingga kram perut yang menyiksa. Bagi kelompok rentan—seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, atau mereka dengan sistem imun rendah—infeksi ini bisa berakibat sangat fatal. Memasak telur dengan suhu yang tepat adalah cara paling ampuh untuk membunuh bakteri patogen ini. Risiko Memasak Terlalu Lama (Overcooking)Meskipun memasak itu perlu, durasi dan suhu juga harus diperhatikan. Memasak telur terlalu lama hingga teksturnya menjadi sangat keras atau muncul lingkaran kehijauan pada kuning telur rebus bukanlah pilihan bijak. Proses overcooking dapat menyebabkan:Kerusakan Tekstur: Protein yang terpapar panas berlebih akan menggumpal terlalu rapat, membuat telur terasa kering, alot, dan kurang lezat. Degradasi Nutrisi: Vitamin yang sensitif terhadap panas seperti folat dan vitamin B12 bisa berkurang kadarnya.
Oksidasi Lemak: Kolesterol dan lemak sehat dalam kuning telur dapat teroksidasi jika dipanaskan secara ekstrem, yang berpotensi kurang baik bagi kesehatan pembuluh darah.Kesimpulan dan Saran PenyajianCara terbaik untuk menikmati manfaat telur adalah dengan memasaknya hingga bagian putihnya benar-benar padat (koagulasi sempurna), sementara bagian kuningnya bisa dibiarkan sedikit lunak jika Anda menyukainya. Jika suatu resep makanan mengharuskan penggunaan telur mentah (seperti pada pembuatan mayones atau saus tertentu), pastikan Anda menggunakan telur pasteurisasi yang sudah diproses secara khusus untuk membunuh bakteri tanpa mematangkan telurnya. Dengan teknik pengolahan yang tepat, telur akan tetap menjadi sumber protein berkualitas tinggi yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memberikan proteksi maksimal bagi kesehatan tubuh Anda.