Connect with us

Lifestyle

Sejarah Kelam Farmasi: Mengulik “One Night Cough Syrup”

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari detikcom Dunia maya belakangan ini dihebohkan oleh kemunculan kembali artefak medis dari masa lalu yang cukup mengejutkan standar kesehatan modern. Sebuah foto botol obat batuk kuno dari awal abad ke-20 menjadi viral, bukan karena desain antiknya, melainkan karena komposisi bahan kimia di dalamnya yang kini dianggap sangat berbahaya, bahkan ilegal jika digabungkan sembarangan.Obat tersebut dikenal dengan nama “One Night Cough Syrup” atau “Sirup Batuk Satu Malam”. Nama ini terdengar menjanjikan kesembuhan instan, namun jika menilik daftar bahannya, efektivitas “satu malam” tersebut kemungkinan besar dicapai dengan cara membius pasien secara total. “Koktail” Narkotika dalam Kemasan Obat, berdasarkan label yang tertera, sirup yang diproduksi oleh Kohler Manufacturing ini mengandung campuran bahan yang di dunia medis modern diawasi dengan sangat ketat atau bahkan dilarang penggunaannya dalam obat bebas. Komponen utamanya meliputi: Alkohol (1%): Sebagai pelarut umum. Cannabis Indica (Ganja): Varian tanaman ganja yang dikenal memiliki efek sedatif atau menenangkan. Kloroform: Zat kimia yang dahulu digunakan sebagai bius total sebelum operasi.

Morfia (Morfin): Turunan opium yang sangat kuat untuk menghilangkan rasa sakit. Konteks Zaman dan Regulasi 1906Meskipun botol ini terasa asing dan mengerikan bagi kita saat ini, produk ini adalah gambaran nyata dari praktik medis umum di akhir era 1800-an hingga awal 1900-an. Kohler Manufacturing sendiri telah memproduksi jenis sirup ini sejak tahun 1880-an. Botol spesifik yang menjadi perbincangan ini diperkirakan diproduksi setelah tahun 1906. Hal ini ditandai dengan kepatuhan produk tersebut terhadap “Undang-Undang Makanan dan Obat-obatan 1906” (Pure Food and Drug Act) di Amerika Serikat. Undang-undang ini adalah tonggak sejarah yang mewajibkan produsen untuk mencantumkan bahan-bahan berbahaya (seperti alkohol, kokain, heroin, morfin, dan ganja) pada label kemasan. Sebelumnya, “ramuan rahasia” bisa dijual tanpa ada yang tahu isinya. Jadi, keberadaan label ini justru menunjukkan langkah awal transparansi medis, meskipun bahannya tetap berbahaya.

Logika Medis di Balik Ramuan Berbahaya, mengapa bahan-bahan sekeras itu diberikan untuk sekadar batuk? Pada masa itu, logika pengobatannya berfokus pada penekanan gejala secara agresif: Opioid (Morfin/Heroin): Digunakan secara luas sebagai antitussive (penekan batuk) dan pereda nyeri. Kloroform: Dipercaya dapat meredakan iritasi tenggorokan dan batuk, sekaligus memberikan efek kantuk yang kuat. Ganja & Alkohol: Berfungsi sebagai sedatif untuk memastikan pasien bisa tidur nyenyak di malam hari, sehingga tidak terganggu oleh batuk.Secara harfiah, obat ini bekerja dengan cara “menidurkan” pasien dan sistem sarafnya, sehingga batuk berhenti karena tubuh terlalu sedasi untuk bereaksi. Akhir dari Era Obat Bebas OpioidZaman keemasan obat-obatan keras ini mulai runtuh seiring berkembangnya ilmu pengetahuan medis. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) dan lembaga kesehatan dunia mulai menyadari risiko fatal jangka panjang. Kloroform, misalnya, mulai dilarang penggunaannya dalam obat-obatan pada tahun 1976 setelah penelitian membuktikan adanya peningkatan risiko serangan jantung dan kanker bagi penggunanya. Sementara itu, penggunaan opioid seperti morfin mulai diatur dengan sangat ketat dan tidak lagi dijual bebas sebagai obat batuk biasa.Saat ini, botol-botol “One Night Cough Syrup” yang masih utuh menjadi saksi bisu sejarah evolusi medis—mengingatkan kita bahwa apa yang dianggap “penyembuh” di satu masa, bisa dianggap “racun” di masa berikutnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *