Education

Sang Garuda Nyata di Langit Bromo, Menelusuri Jejak dan Fakta Elang Jawa yang Terancam Punah

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari trevel.detik.com Di balik kemegahan lanskap vulkanis Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), tersimpan kekayaan hayati yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Hutan belantara di kawasan ini menjadi santuari bagi kawanan satwa liar yang sangat karismatik, yakni Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Burung pemangsa ini bukan sekadar penghuni hutan, melainkan representasi hidup dari lambang negara Indonesia.

​Inkarnasi Garuda Pancasila

​Keberadaan Elang Jawa sering kali dikaitkan dengan mitologi Garuda. Hal ini bukan sekadar isapan jempol, karena pihak TNBTS dan berbagai literatur ornitologi telah mengonfirmasi bahwa karakteristik fisik Elang Jawa terutama jambul di kepalanya menjadi inspirasi visual bagi lambang Garuda Pancasila. Sebagai spesies endemik yang hanya ditemukan di Pulau Jawa, burung ini menghuni kawasan hutan hujan tropis, mulai dari dataran rendah hingga area pegunungan dengan ketinggian mencapai 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

​Jejak Sejarah dan Klasifikasi

​Sejarah pengakuan Elang Jawa sebagai spesies mandiri memiliki alur yang panjang. Pada tahun 1898, spesimen burung ini pertama kali dikirim ke Amerika Serikat oleh peneliti E.P. Rillwits dari Gunung Gede. Kala itu, para ahli di Museum New York sempat salah mengidentifikasinya sebagai Elang Brontok karena kemiripan morfologi.

​Identitas sejati burung ini baru terungkap berkat ketelitian Max Bartels, seorang ahli burung yang melakukan penelitian mendalam. Ia menemukan perbedaan signifikan yang memisahkan burung ini dari spesies elang lainnya. Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, pada tahun 1907 burung ini resmi dinamakan Nisaetus bartelsi. Habitat aslinya membentang dari Taman Nasional Ujung Kulon di barat hingga Semenanjung Blambangan di ujung timur Jawa.

​Karakteristik Fisik Sang Penguasa Langit

​Secara fisik, Elang Jawa memiliki postur yang gagah dengan panjang tubuh berkisar 60-70 cm dan berat antara 2 hingga 2,5 kg. Bentang sayapnya yang lebar, yang bisa melebihi satu meter, memungkinkannya melayang anggun saat memantau mangsa. Ciri yang paling ikonik adalah jambul hitam di kepalanya yang menjulang, menyerupai mahkota.

​Warna tubuhnya merupakan perpaduan estetis antara cokelat gelap pada punggung dan sayap, serta pola garis-garis hitam melintang pada ekor. Bagian tengkuk didominasi warna merah kecokelatan, sementara kerongkongannya berwarna putih dengan garis hitam vertikal yang khas. Uniknya, Elang Jawa memiliki fenomena biologi yang disebut reversed sexual dimorphism, di mana ukuran tubuh betina justru lebih besar dibandingkan jantan, sebuah karakteristik umum pada burung pemangsa (raptor).

​Pola Hidup dan Reproduksi yang Lambat

​Sebagai predator puncak, Elang Jawa memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan memangsa mamalia kecil seperti tupai, bajing, kelelawar, dan tikus. Hal ini secara alami membantu mengendalikan populasi hama di alam liar.

​Elang Jawa membangun sarang di pohon-pohon tinggi, sekitar 30 meter dari tanah, menggunakan ranting dan dedaunan. Namun, laju reproduksinya sangat lambat. Musim kawin hanya terjadi antara bulan Mei hingga Agustus, dan sang induk betina hanya mampu menghasilkan satu butir telur berbintik merah dalam setiap periode reproduksi.

​Ancaman Kepunahan

​Lambatnya reproduksi ini, ditambah dengan ancaman eksternal, membuat populasi Elang Jawa berada di ambang kritis. Saat ini, diperkirakan hanya tersisa 300 hingga 500 individu di alam liar. Kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan dan perburuan liar untuk perdagangan ilegal menjadi faktor utama penurunan populasi.

​Mengingat kondisinya yang genting, IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkannya sebagai spesies terancam punah (Endangered), dan CITES melarang keras perdagangan internasional satwa ini. Pemerintah Indonesia pun telah memberikan status perlindungan penuh terhadap satwa ini. Melestarikan Elang Jawa bukan hanya tentang menyelamatkan seekor burung, melainkan menjaga simbol kedaulatan dan identitas bangsa agar tidak hanya tinggal sejarah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version