Connect with us

International

Salat Tarawih di Bawah Bayang-Bayang Maut: Potret Keteguhan Iman Warga Gaza

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari international.sindownews. com Bulan suci Ramadan, yang seharusnya disambut dengan sukacita dan kedamaian, hadir dengan wajah yang sangat berbeda bagi saudara-saudara kita di Jalur Gaza. Artikel yang dilansir dari Sindonews menyoroti lima fakta memilukan yang menggambarkan bagaimana ibadah salat Tarawih dilaksanakan di tengah kecamuk perang yang tak kunjung usai. Di sana, kekhusyukan ibadah malam harus berhadapan langsung dengan teror dan kehancuran fisik yang nyata.

Fakta pertama dan yang paling menyayat hati adalah hilangnya tempat bernaung untuk bersujud. Ratusan masjid yang dulunya berdiri megah sebagai pusat spiritualitas kini telah rata dengan tanah akibat bombardir serangan udara. Warga Gaza tidak lagi memiliki atap masjid untuk melindungi mereka dari dinginnya malam. Sebagai gantinya, mereka menggelar sajadah—atau seringkali hanya alas seadanya—di atas tumpukan puing-puing reruntuhan bangunan. Dinding-dinding masjid yang hancur menjadi saksi bisu keteguhan mereka, di mana debu dan pecahan beton menemani setiap gerakan rukuk dan sujud para jemaah.

Kedua, suasana malam yang seharusnya hening untuk bermunajat kini berganti menjadi suasana yang mencekam. Langit Gaza tidak dihiasi oleh bintang atau lampu-lampu hias Ramadan, melainkan dipenuhi oleh suara bising dari drone pengintai dan pesawat tempur Israel yang terus beterbangan tanpa henti. Suara dengungan mesin pembunuh ini menjadi “musik latar” yang meneror psikologis warga, mengingatkan mereka bahwa maut bisa datang kapan saja, bahkan saat mereka sedang menghadap Sang Pencipta. Tidak ada jaminan keamanan, namun hal itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap mendirikan salat berjamaah.

Selain ancaman fisik, keterbatasan fasilitas menjadi kendala utama lainnya. Tanpa pasokan listrik yang memadai, salat Tarawih dilaksanakan dalam kegelapan atau hanya diterangi cahaya remang-remang dari ponsel dan api kecil. Pengeras suara (toa) masjid tidak lagi berfungsi karena ketiadaan daya atau kerusakan alat, sehingga suara imam harus dilantangkan sekuat tenaga agar terdengar oleh makmum di barisan belakang. Ketiadaan air bersih juga membuat prosesi wudhu menjadi tantangan berat tersendiri, memaksa warga untuk bertayamum atau menggunakan air yang sangat terbatas.

Fakta selanjutnya adalah tentang siapa yang berdiri di dalam barisan shaf tersebut. Barisan jemaah kini terasa lebih renggang dan penuh duka, karena banyak dari mereka yang telah kehilangan anggota keluarga, sahabat, atau tetangga akibat serangan yang terjadi siang harinya. Salat Tarawih menjadi momen emosional di mana doa-doa yang dipanjatkan bukan sekadar ritual ibadah, melainkan jeritan hati yang memohon perlindungan dan kekuatan di tengah kehilangan yang mendalam.

Namun, di balik semua kehancuran dan teror tersebut, fakta kelima justru menunjukkan kekuatan terbesar warga Gaza: resistensi melalui iman. Pelaksanaan salat Tarawih di tengah reruntuhan dan ancaman drone ini adalah bentuk perlawanan spiritual yang nyata. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia dan musuh bahwa meskipun masjid mereka dihancurkan dan nyawa mereka terancam, keimanan dan kewajiban mereka kepada Tuhan tidak akan pernah bisa diruntuhkan. Ibadah di tengah puing ini menjadi simbol harapan yang menyala di tengah kegelapan perang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *