Connect with us

Tech

Revolusi Strategis Nokia: Restrukturisasi Bisnis Menuju Dominasi Infrastruktur AI dan Era 6G​

Published

on

Jakarta (usmnews) – Dikutip dari Sindonews.com Dunia teknologi saat ini tengah menyaksikan pergeseran paradigma yang signifikan, di mana “Kecerdasan Buatan” (AI) bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan inti dari identitas perusahaan. Tren ini terlihat jelas dari langkah banyak perusahaan teknologi yang melakukan rebranding total untuk menonjolkan kapabilitas AI mereka.

Salah satu contoh paling relevan adalah transformasi CoreWeave, yang bermula sebagai perusahaan penambangan kripto namun kini sukses beralih rupa menjadi penyedia infrastruktur pusat data khusus AI. Mengikuti gelombang perubahan global ini, Nokia—raksasa telekomunikasi yang pernah merajai pasar ponsel dunia—kini mengambil langkah agresif untuk mendefinisikan ulang masa depannya melalui restrukturisasi besar-besaran.​

Strategi utama yang diambil Nokia adalah memecah operasional bisnisnya menjadi dua unit terpisah yang lebih fokus dan spesifik. Unit pertama akan didedikasikan sepenuhnya untuk infrastruktur jaringan yang mendukung layanan AI serta pengelolaan pusat data (data center).

Sementara itu, unit kedua akan tetap fokus pada kompetensi inti mereka, yaitu infrastruktur seluler untuk kebutuhan telekomunikasi konvensional. Pemisahan ini bukan sekadar perubahan administrasi, melainkan taktik bisnis untuk meningkatkan efisiensi operasional secara drastis. Melalui langkah ini, Nokia menargetkan lonjakan laba operasional hingga menyentuh angka €3,2 miliar pada tahun 2028.​

Visi di balik restrukturisasi ini sangat erat kaitannya dengan pengembangan jaringan generasi keenam atau 6G. Nokia memahami bahwa ekosistem AI masa depan akan menuntut jalur data dengan kapasitas raksasa dan latensi minimal.

Oleh karena itu, integrasi AI ke dalam jaringan 6G menjadi krusial untuk mendukung perangkat pintar yang haus data. Keseriusan ambisi ini diperkuat oleh kolaborasi tingkat tinggi dengan NVIDIA. Laporan terbaru mencatat bahwa NVIDIA telah menggelontorkan investasi sebesar USD 1 miliar untuk bermitra dengan Nokia, sebuah sinergi yang bertujuan menciptakan infrastruktur 6G yang sepenuhnya bertenaga AI.​

Selain sektor komersial, Nokia juga jeli melihat peluang di sektor pertahanan dengan meluncurkan unit bisnis “Nokia Defense”. Unit ini menyediakan teknologi jaringan berspesifikasi militer yang dirancang untuk ketahanan maksimal. Langkah ini dinilai sangat strategis di tengah memanasnya situasi geopolitik global.

Kebijakan Uni Eropa yang semakin memperketat larangan terhadap peralatan telekomunikasi buatan Tiongkok—seperti Huawei dan ZTE—atas dasar keamanan nasional, telah menciptakan celah pasar yang besar. Nokia, sebagai entitas Eropa yang tepercaya, kini berada di posisi terdepan untuk mengisi kekosongan tersebut, menggantikan dominasi vendor Asia di benua biru dengan solusi jaringan yang lebih aman dan berdaulat.​

Secara keseluruhan, manuver Nokia ini menegaskan bahwa masa depan telekomunikasi tidak lagi hanya soal menghubungkan manusia, tetapi tentang membangun infrastruktur cerdas yang menjadi tulang punggung bagi AI dan keamanan global.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *