Entertainment
Review Film Supergirl 2026, Naskah Rapuh Bikin Langkah Awal DCU Kurang Menggigit
Semarang (usmnews) – Industri perfilman global kembali menyambut kehadiran pahlawan super baru melalui layar lebar. Sayangnya, review film Supergirl (2026) memberikan catatan kritis terhadap proyek ambisius milik DC Universe ini. Film ini sesungguhnya mempunyai potensi sangat besar untuk menampilkan sosok pahlawan yang rapuh. Namun, arah kreatif yang gamang justru membuat kisah sepupu Superman ini terasa menjemukan. Sajian visual yang teramat pekat membuat penonton kesulitan menikmati keindahan estetika dunia komik tersebut. Alhasil, durasi tayang sepanjang 108 menit berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam.
Performa Spektakuler Milly Alcock dalam Ulasan Negatif dan Review Film Supergirl
Satu-satunya magnet kuat yang menahan proyek ini agar tidak jatuh bebas adalah performa luar biasa Milly Alcock. Aktris muda tersebut dengan cerdas menyuntikkan gaya edgy yang berpadu dengan estetika punk rock. Kara Zor-El versi Alcock tampil tidak sempurna sebagai pahlawan urakan yang menyimpan trauma masa lalu. Keputusan casting ini terasa semakin solid berkat dukungan desain kostum yang sangat mendetail di lapangan. Selain itu, tata produksi juga sukses memadukan efek praktis dengan riasan para monster secara apik.
Meskipun demikian, pujian untuk adaptasi komik terbaru ini harus berhenti sampai di situ saja. Masalah mendasar sinema ini berakar pada naskah perdana film panjang tulisan Ana Nogueira. Alih-alih mengeksplorasi proses Kara keluar dari jerat depresi, skripnya justru memperlakukan narasi sebagai wadah kosong. Transformasi emosional Kara untuk menemukan kembali tujuan hidupnya terasa seperti asal tempel dan tidak organik. Oleh karena itu, ulasan negatif atau review film Supergirl (2026) banyak menyoroti kelemahan sektor penulisan cerita.
Kelemahan Narasi dan Kegagalan Adaptasi Komik Kara Zor-El di Layar Lebar
Tim kreatif tampaknya lebih memilih fokus untuk membuat atmosfer tayangan ini menjadi sangat punk rock. Namun, kombinasi tersebut ironisnya berakhir seperti versi hambar perkawinan Guardians of the Galaxy dan Mad Max. Tak hanya itu, perjalanan karakter Ruthye justru konsisten menjadi penggerak utama sepanjang narasi film. Akibatnya, tokoh Kara terlihat asing dan berkeliaran tanpa arah jelas dalam filmnya sendiri. Perjalanan antargalaksi Kara untuk menaklukkan Krem dan menyelamatkan Krypto juga gagal berkembang secara emosional.
“Supergirl (2026) sesungguhnya punya potensi besar menjadi dobrakan dalam menampilkan superhero yang rapuh dan punya celah emosional. Sayangnya, potensi besar tersebut tersesat dalam eksekusi yang membingungkan,” demikian bunyi petikan ulasan utama dari kritikus film CNN Indonesia.
Kelemahan fatal itu bertambah parah dengan hadirnya dialog kaku yang tertulis secara berlebihan oleh penulis. Pengulangan kalimat yang menjengkelkan muncul berulang kali tanpa adanya urgensi cerita yang kuat bagi penonton. Nuansa menyenangkan yang sebelumnya berhasil James Gunn bangun lewat Superman (2025) sama sekali tidak membekas di sini. Kelesuan kreativitas ini akhirnya turut merembet ke jajaran pemeran pendukung sepanjang jalannya cerita.
Kinerja Jajaran Pemeran Pendukung yang Tampil Kurang Maksimal
Aktor Jason Momoa sesungguhnya tampil sangat natural saat memerankan karakter ikonik bernama Lobo. Namun, kehadiran sang aktor di dalam beberapa adegan terasa terlalu aman serta mudah ditebak. Matthias Schoenaerts yang mencoba memberikan kedalaman pada sosok antagonis utama, Krem, juga gagal membangun koneksi. Padahal, kelompok penjahatnya memiliki latar belakang sebagai klan kejam yang melakukan perdagangan anak perempuan. Sayangnya, konflik yang sangat potensial tersebut hanya menjadi pemanis visual di permukaan saja tanpa bekas.
Secara keseluruhan, formula yang ditawarkan oleh sutradara tidak menyajikan sesuatu yang baru bagi pencinta sinema. Rentetan adegan aksi di dalamnya terasa hambar hingga tidak meninggalkan kesan sama sekali saat keluar studio. Pada akhirnya, pahlawan super wanita ini gagal terbang tinggi akibat naskah yang sangat rapuh. Karakter sepotensial Kara Zor-El jelas pantas mendapatkan panggung yang jauh lebih megah serta bertenaga.