Nasional
Program Revola Jateng Sukses Mengubah Lahan Tidur Menjadi Produktif
Semarang (usmnews) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sukses menghidupkan kembali sejumlah lahan tidur. Mereka menggunakan Program Revola Jateng untuk membuat hamparan lahan tersebut kembali sangat produktif. Gubernur Ahmad Luthfi meresmikan langsung lahan garapan baru tersebut pada hari Senin. Beliau memilih Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara sebagai lokasi peluncuran utama. Selanjutnya, langkah strategis ini tidak hanya membangunkan lahan kosong selama belasan tahun. Namun, inisiatif ini juga menumbuhkan harapan baru bagi perekonomian masyarakat sekitar desa. Oleh karena itu, masa depan pertanian desa akan menjadi jauh lebih cerah.
Gubernur Berharap Semua Daerah Mengadopsi Revolusi Lahan
Dalam kesempatan berharga tersebut, Luthfi menyampaikan harapan besarnya kepada seluruh jajaran pemerintah. Dia ingin semua kepala daerah menerapkan Program Revola Jateng di 35 kabupaten. Dia sangat meyakini masyarakat masih membiarkan banyak lahan menganggur begitu saja. Para petani bisa mengoptimalkan lahan-lahan kosong tersebut untuk mulai bercocok tanam. Dengan demikian, pemerintah daerah pasti mampu mendukung program ketahanan pangan secara maksimal. Selain itu, Jawa Tengah pasti segera mencapai target swasembada pangan tingkat nasional. Luthfi dengan tegas menyatakan komitmennya mengenai program pemberdayaan area lahan kosong tersebut.
“Saya sangat ingin seluruh kabupaten atau kota memiliki program revolusi lahan pertanian. Saya yakin masyarakat di seluruh daerah masih memiliki banyak area lahan kosong. Mereka sama sekali tidak pernah menggarap lahan kosong tersebut pada masa lalu,” katanya.
Konsep Smart Farming Mendukung Lahan Pertanian Produktif
Luthfi menjelaskan inti dari program inovatif ini kepada seluruh masyarakat luas. Pemerintah bertujuan mengajak warga desa untuk segera membangunkan area lahan yang menganggur. Para masyarakat harus menggarap lahan tersebut secara terus-menerus tanpa henti setiap harinya. Tentu saja, warga harus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak pemangku kepentingan. Kemudian, pemerintah juga mengusung konsep smart farming modern pada area lahan tersebut. Petani menanam komoditas unggulan seperti tanaman kopi dan juga pohon buah alpukat. Mereka menanam pohon-pohon tersebut untuk mencegah erosi tanah di areal seluas 10 hektare.
Warga juga membudidayakan tanaman hortikultura, padi, serta mengurus sektor perikanan perairan darat. Mereka turut mengembangkan peternakan ayam dan kambing secara bersamaan setiap harinya. Sebagai tambahan, petani milenial terjun langsung mengendalikan teknologi pertanian cerdas masa kini.
“Semua komponen saling menyambung dan selalu berpadu dengan sangat baik setiap saat. Akibatnya, masyarakat desa menjadi sejahtera dan tidak menganggur sama sekali sepanjang tahun. Akhirnya, para warga benar-benar memakai lahan tersebut secara maksimal,” Luthfi menambahkan penjelasannya tegas.
Kepala Desa Mendukung Penuh Revolusi Lahan Produktif
Kolaborasi berbagai pihak membuat perekonomian masyarakat perlahan mulai hidup dan bangkit. Selanjutnya, pemerintah akan menjadikan desa ini sebagai model percontohan utama tingkat provinsi. Mereka pasti menggunakan strategi jitu ini untuk mengentaskan kemiskinan di daerah lain. Kepala Desa Susukan, Hasyim Abdullah, menceritakan antusiasme warganya yang sangat tinggi sekali. Dia menyatakan warga sangat menyambut baik program luar biasa dari Pemprov Jateng. Inisiatif tersebut benar-benar menyulap lahan tidur menjadi area pertanian sangat produktif.
Selain itu, masyarakat kini dapat memanfaatkan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka juga bisa menjual kelebihan panen untuk menambah pemasukan keuangan anggota keluarga. Warga memelihara tanaman kopi dan alpukat untuk menjaga kelestarian alam lingkungan sekitar.
“Inovasi ini juga memberdayakan warga miskin yang menetap di dalam desa kami. Saat ini, warga baru menjalankan program selama kurang lebih satu bulan penuh. Maka dari itu, kami sementara waktu mengonsumsi telur ayam untuk kebutuhan gizi pribadi. Tujuannya tentu untuk meningkatkan kualitas gizi anggota keluarga miskin di wilayah kami. Ke depannya, program ini pasti meningkatkan pendapatan tunai bagi keluarga kurang mampu,” ujar Hasyim.
Petani Milenial Mengoptimalkan Program Pertanian Produktif
Pada sisi lain, perwakilan petani bernama Nur Fauzi juga memberikan tanggapan positif. Fauzi mengonfirmasi inisiatif Pemprov Jateng sangat membantu para petani di Desa Susukan. Warga sekitar membiarkan lahan tersebut menganggur selama kurang lebih 12 tahun lamanya. Akan tetapi, mereka sekarang sudah mengolah kembali area tersebut menjadi lokasi pertanian subur. Pada masa lalu, warga masyarakat menggunakan hamparan lahan itu untuk menanam teh. Namun, mereka sekarang beralih menanam komoditas kopi, alpukat, dan berbagai produk hortikultura.
“Saya ikut memelihara ternak kambing, ayam, ikan, dan berbagai hewan ternak lainnya. Selain itu, saya juga menanam kopi, alpukat, dan komoditas hortikultura sayuran segar. Contohnya, saya merawat tanaman cabai, terong, hingga komoditas padi di lahan subur ini,” tutur Fauzi.
Fauzi mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak pemerintah daerah setempat. Inisiatif cemerlang tersebut melibatkan banyak petani muda yang melek teknologi digital terkini. Petani milenial menggunakan peralatan canggih untuk memudahkan pekerjaan mereka pada setiap harinya. Tak pelak, anak muda ke depan pasti mengendalikan berbagai teknologi pertanian mutakhir. Mereka akan mengoperasikan drone udara, menyalakan mesin penyiram otomatis, dan mengukur unsur hara tanah.