International

PM Denmark Minta Maaf atas Kontrasepsi Paksa Inuit

Published

on

Jakarta (usmnews) – Denmark Resmi Minta Maaf atas Kontrasepsi Paksa terhadap 4.500 Perempuan Inuit di Greenland.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, mengatakan meski apa yang terjadi tidak bisa diubah, tanggung jawab tetap harus diambil.

“Karena itu, atas nama Denmark, saya ingin mengatakan: saya minta maaf,” ujar Frederiksen dalam pernyataannya.

Frederiksen menyatakan masih ada bab gelap lain dalam diskriminasi terhadap warga Greenland, dan permintaan maafnya mencakup kegagalan-kegagalan tersebut.

Apa kisah di balik kontrasepsi paksa perempuan Inuit?

Sekitar 4.500 perempuan Inuit di Greenland dipaksa pakai IUD tanpa persetujuan oleh Denmark antara 1960–1992. Alhasil, kontrasepsi paksa ini membuat banyak perempuan menjadi mandul serta mengalami gangguan kesehatan fisik dan mental.

Kala itu, kampanye dilakukan ketika populasi Greenland meningkat pesat akibat membaiknya kondisi hidup dan akses layanan kesehatan. Banyak korban masih berusia remaja pada saat itu.

Greenland jadi bagian resmi Denmark pada 1953, dapat pemerintahan sendiri pada 1979, dan ambil alih layanan kesehatan pada 1992.

Respons pemimpin Greenland

Sekitar 150 perempuan Inuit sebelumnya menggugat Denmark dan menuntut kompensasi atas pelanggaran hak asasi.

Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, juga meminta maaf kepada para perempuan yang “telah terpapar — dan hidup dengan konsekuensi dari intervensi yang tidak kalian minta dan tidak bisa kalian kendalikan.”

Permintaan maaf ini disampaikan sebulan sebelum laporan resmi terkait perlakuan terhadap perempuan Inuit dijadwalkan rilis pada bulan depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version