Connect with us

Business

Pesta Durian di Dataran Tinggi Gayo, Manisnya Panen Raya Bener Meriah di Tengah Tantangan Infrastruktur Pasca-Bencana

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Kabupaten Bener Meriah, yang selama ini tersohor di kancah internasional sebagai lumbung kopi Arabika terbaik, kini tengah menyuguhkan pesona lain dari kekayaan alamnya. Memasuki bulan Januari 2026, wilayah Dataran Tinggi Gayo ini sedang dibanjiri oleh “Raja Buah”. Aroma menyengat yang khas dari buah durian kini mendominasi setiap sudut jalan dan pusat keramaian, menandakan bahwa musim panen raya telah tiba.

​Kecamatan-kecamatan seperti Timang Gajah, Gajah Putih, Pintu Rime Gayo, Syiah Utama, hingga Wih Pesam menjadi sentra produksi utama yang menyuplai puluhan ton durian setiap harinya. Fenomena ini menjadi magnet kuat bagi wisatawan lokal maupun luar daerah yang ingin menikmati sensasi berburu durian langsung di tengah sejuknya udara pegunungan.

​Surga Bagi Penikmat Durian Lokal

​Para pedagang musiman mulai memadati pinggir jalan, menawarkan beragam pilihan durian dengan rentang harga yang sangat variatif, mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 50.000 per buah. Abdurrahman, salah seorang pedagang yang ditemui pada Selasa (20/1/2026), menuturkan bahwa fleksibilitas harga ini memungkinkan semua kalangan masyarakat untuk menikmati buah berduri tersebut sesuai dengan isi dompet masing-masing. Bahkan, bagi pengunjung yang bersedia menempuh perjalanan langsung ke lokasi kebun, harga yang ditawarkan bisa jatuh drastis hingga Rp 5.000 per buah, sebuah penawaran yang sulit ditolak.

​Meski varietas unggulan internasional seperti Montong dan Musang King turut tersedia, durian lokal varietas asli Gayo tetap menjadi primadona. Nanda Marpaung, seorang penggemar durian, mengungkapkan bahwa durian lokal lebih diminati karena faktor rasionalitas ekonomi. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih pascabencana, membeli durian lokal yang manis legit dengan harga terjangkau dinilai lebih bijak daripada membelanjakan uang untuk durian impor yang harganya dihitung per kilogram.

​Ironi di Tengah Melimpahnya Panen

Foto: kompas.com

​Namun, di balik manisnya rasa durian dan ramainya transaksi jual beli, tersimpan cerita pilu perjuangan para petani. Musim panen tahun 2026 ini sebenarnya mencatatkan produktivitas yang luar biasa; hampir setiap pohon berbuah lebat, jauh melampaui hasil tahun-tahun sebelumnya. Sayangnya, berkah alam ini berbenturan dengan kendala infrastruktur yang parah akibat bencana hidrometeorologi.

​Ahmad, salah satu petani setempat, mengungkapkan ironi yang terjadi di lapangan. Rusaknya akses jalan dan putusnya jembatan penghubung di desa-desa sentra produksi membuat proses distribusi menjadi mimpi buruk. Medan yang ekstrem memaksa banyak petani menyerah. Mereka tidak sanggup mengangkut hasil panen keluar dari area perkebunan. Alhasil, di beberapa titik yang terisolasi, durian berkualitas tinggi terpaksa dibagikan secara cuma-cuma kepada warga yang kebetulan melintas, atau bahkan dibiarkan begitu saja karena biaya angkut tidak sebanding dengan harga jual.

​Sebagai strategi bertahan hidup, para petani yang masih memiliki akses jalan yang relatif bisa dilalui memilih untuk mengalihkan distribusi penjualan mereka ke wilayah tetangga, seperti Kabupaten Bireuen dan Lhokseumawe. Selain karena aksesibilitas yang lebih memadai, daya beli masyarakat di kedua wilayah pesisir tersebut dinilai lebih stabil pascabencana, memberikan sedikit harapan keuntungan bagi jerih payah petani Gayo.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *