Education

Pesona Baru Karanghawu: Wisata Edukasi Madu Trigona, Belajar Budidaya Sekaligus Menjaga Lingkungan

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari Sukabumi​update.com Kawasan Pantai Karanghawu di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, kini menawarkan daya tarik wisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan bahari semata. Sebuah inovasi wisata edukasi telah hadir, berfokus pada budidaya Madu Trigona atau yang dikenal dengan sebutan lokal madu teuweul.

Tempat ini didirikan sebagai destinasi unik yang memadukan pesona alam dengan fungsi edukatif, menekankan pentingnya pelestarian lingkungan melalui kegiatan budidaya lebah tanpa sengat.

​Konsep Edukasi dan Pengembangan Usaha Lokal
​Pengelola sekaligus pembudidaya utama lebah trigona di kawasan ini, Nanan, yang juga merupakan Relawan Inspirasi Rumah Zakat Desa Berdaya Cisolok, mengisahkan bahwa pusat edukasi ini mulai dikembangkan pada Agustus 2024.

Awalnya hanya berfokus pada budidaya lebah trigona, namun seiring waktu, inisiatif ini berkembang menjadi pusat pembelajaran yang lebih luas, mencakup:
​Budidaya Lebah Madu Trigona: Saat ini dikelola sekitar 100 koloni lebah, terdiri dari dua jenis, yaitu laeviceps yang berukuran kecil dan itama yang berukuran lebih besar. Budidaya Komoditas Lain: Selain madu, tempat ini juga mengembangkan budidaya jamur tiram, anggur, dan stroberi.

​Visi utama Nanan melalui wisata edukasi ini adalah untuk menjadi sarana pembelajaran bagi siswa, masyarakat umum, dan wisatawan, yang ingin memahami secara langsung proses budidaya lebah dan kontribusi pentingnya terhadap keseimbangan ekologis.

Tujuan jangka panjangnya adalah menumbuhkan minat masyarakat lokal untuk turut membudidayakan lebah di rumah masing-masing, memberikan inspirasi bagi pengembangan ekonomi dan lingkungan berkelanjutan. Kegiatan ini secara langsung melibatkan sekitar 10 warga lokal dalam operasional budidaya dan pengelolaan wisata. Fasilitas, Produk, dan Harga yang Terjangkau

Wisata edukasi ini dirancang agar dapat diakses oleh semua kalangan dengan biaya masuk yang sangat terjangkau, yaitu hanya infak Rp5.000. Dengan biaya tersebut, pengunjung dapat menikmati berbagai fasilitas yang tersedia, meliputi gazebo, musala, toilet, hingga area permainan anak.

Foto : Sukabumi Update

​Daya tarik utama bagi pengunjung adalah pengalaman belajar secara langsung tentang cara budidaya lebah, jamur, stroberi, dan anggur.

Selain itu, pengunjung juga berkesempatan untuk membeli hasil panen secara langsung dengan harga yang kompetitif:

​1. Jamur Tiram: Rp20.000 per kilogram.
​2. Madu Trigona: Rp100.000 untuk kemasan 250 ml.

​Tak hanya hasil panen mentah, tersedia pula berbagai produk olahan berbahan dasar madu trigona yang menyegarkan, seperti kelapa muda madu trigona, teh telang madu, dan hot lemon madu.

​Manfaat Ekologis dan Kesehatan Madu Trigona

​Secara ekologis, keberadaan lebah trigona terbukti berperan penting dalam mempercepat proses penyerbukan tanaman, termasuk pada tanaman anggur yang juga dikembangkan di lokasi tersebut.

Dari sisi kesehatan, madu trigona dikenal memiliki tiga keunggulan utama karena mengandung:

1. Madu

2. Propolis

3. Pollen

​Kandungan tersebut dipercaya dapat menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Menariknya, madu trigona juga direkomendasikan secara khusus bagi penderita diabetes dan asam lambung, yang membedakannya dengan jenis madu hutan pada umumnya.

​Pengunjung yang datang tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan produk, tetapi juga disuguhkan dengan pemandangan yang menakjubkan, di mana di satu sisi terhampar laut, dan di sisi lain terbentang hutan hijau, menciptakan suasana yang ideal untuk berwisata sambil belajar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version