Lifestyle
Pertarungan Nutrisi: Telur Dadar Melawan Telur Rebus, Mana yang Unggul?

Semarang (usmnews) dikutip dari cnbcindonesia.com Perdebatan mengenai cara memasak telur yang paling sehat, apakah direbus atau didadar, adalah hal yang sering muncul di kalangan pegiat gaya hidup sehat dan ahli gizi. Kedua olahan ini sama-sama berasal dari bahan dasar yang kaya nutrisi, yaitu telur utuh, namun metode pengolahannya menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam profil kalori, lemak, dan penyerapan beberapa nutrisi penting. Secara umum, telur rebus seringkali diunggulkan sebagai pilihan yang lebih sehat, terutama bagi mereka yang sedang menjalani program diet atau memiliki perhatian khusus terhadap asupan lemak dan kalori.
🥚 Telur Rebus: Juara Profil Nutrisi Murni
Telur rebus, yang dimasak hanya dengan air tanpa penambahan zat lain, adalah representasi paling murni dari nutrisi yang dikandung telur. Satu butir telur rebus ukuran sedang (sekitar 50 gram) umumnya mengandung sekitar 70-77 kkal, dengan protein tinggi, vitamin, dan mineral. Karena tidak ada tambahan minyak, lemak jenuh, dan kalori yang berasal dari proses penggorengan, telur rebus memiliki keunggulan sebagai makanan rendah kalori dan rendah lemak.

Proses perebusan juga dianggap menjaga integritas nutrisi esensial pada telur. Misalnya, antioksidan penting seperti lutein dan zeaxanthin, yang bermanfaat untuk kesehatan mata, dilaporkan lebih mudah diserap oleh tubuh dari telur rebus. Selain itu, bagi kelompok usia lanjut atau individu dengan sensitivitas pencernaan, telur rebus seringkali lebih mudah dicerna karena proteinnya telah terdenaturasi secara sempurna oleh panas, namun tanpa risiko oksidasi kolesterol berlebihan seperti yang terjadi pada penggorengan suhu tinggi. Dengan kandungan kalori yang rendah dan protein utuh, telur rebus sangat efektif untuk memberikan rasa kenyang yang lebih lama, menjadikannya pilihan ideal untuk sarapan atau camilan diet.
🍳 Telur Dadar: Kelezatan yang Datang dengan Biaya Tambahan
Sebaliknya, telur dadar (atau telur orak-arik) melibatkan proses penggorengan yang memerlukan tambahan minyak, mentega, atau margarin. Penggunaan lemak tambahan inilah yang secara drastis mengubah profil nutrisi akhir dari hidangan.
1. Peningkatan Kalori dan Lemak
Kalori pada satu butir telur yang dimasak menjadi telur dadar bisa meningkat hingga mencapai 100-125 kkal atau bahkan lebih, tergantung pada jumlah minyak yang digunakan dan bahan tambahan lainnya. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh tambahan lemak. Lemak, yang mengandung sekitar 9 kkal per gram, jauh lebih padat energi dibandingkan protein atau karbohidrat (4 kkal per gram). Jika menggunakan minyak goreng biasa yang tinggi lemak jenuh, asupan lemak jenuh harian Anda pun akan ikut meningkat.
2. Risiko Oksidasi Kolesterol dan Nutrisi
Penggorengan dengan suhu tinggi, yang sering dilakukan saat membuat telur dadar atau ceplok, dapat menyebabkan oksidasi kolesterol dalam kuning telur menjadi oxysterol. Senyawa ini telah dikaitkan dengan potensi peningkatan risiko penyakit jantung. Sementara itu, proses pengocokan dan pemanasan pada telur dadar juga dikhawatirkan dapat mengurangi kadar beberapa vitamin sensitif panas dan antioksidan seperti lutein dan zeaxanthin dibandingkan pada telur rebus. Namun, perlu dicatat bahwa sebagian besar mineral dan protein tetap tidak berubah secara signifikan.

3. Keunggulan Rasa dan Variasi
Terlepas dari kekurangan nutrisinya, telur dadar memiliki keunggulan tak tertandingi dalam hal variasi rasa dan daya tarik. Penambahan garam, merica, bawang, cabai, daun bawang, atau bahkan keju, membuat telur dadar menjadi pilihan yang lebih lezat dan memuaskan. Bagi sebagian orang, terutama anak-anak yang sulit makan, telur dadar dapat menjadi cara efektif untuk meningkatkan nafsu makan dan menyajikan protein berkualitas. Keuntungan lainnya, telur dadar memungkinkan kita untuk dengan mudah menyisipkan sayuran ke dalam makanan (seperti irisan tomat, bayam, atau jamur), yang secara keseluruhan dapat meningkatkan asupan serat, vitamin, dan mineral harian.
⚖️ Kesimpulan: Pilihan Paling Sehat Tergantung pada Prioritas
Membandingkan keduanya, jika tujuannya adalah mengonsumsi telur dengan kalori dan lemak terendah sambil memaksimalkan perlindungan antioksidan dan kemudahan cerna, telur rebus adalah pemenangnya. Ini adalah pilihan terbaik untuk diet ketat, pengaturan berat badan, dan kesehatan jantung.
Namun, telur dadar tetap bisa menjadi pilihan yang sehat asalkan dimasak dengan bijak. Kunci untuk membuat telur dadar yang lebih sehat adalah:
- Kurangi Lemak: Gunakan wajan antilengket dan hanya sedikit minyak sehat (seperti minyak zaitun atau kanola) atau cooking spray.
- Tambahkan Sayuran: Sisipkan sayuran untuk menambah nutrisi dan serat.
- Hindari Tambahan Berlemak Tinggi: Batasi atau hindari keju, krim, atau daging olahan.
Pada akhirnya, cara paling sehat untuk mengonsumsi telur adalah yang paling sesuai dengan kebutuhan gizi dan kondisi kesehatan pribadi Anda. Memilih telur rebus sebagai menu harian yang konsisten, sambil menikmati telur dadar sesekali dengan minyak yang minim, adalah strategi yang paling seimbang untuk mendapatkan manfaat optimal dari sumber protein yang luar biasa ini.






