Lifestyle

Peringatan Keras dari Akademisi UGM

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari CNBCIndonesia Guru Besar UGM menyoroti fakta mengkhawatirkan bahwa angka kasus kusta di Indonesia tidak kunjung turun secara signifikan. Masalah utamanya bukan hanya pada keberadaan bakteri penyebabnya, tetapi pada rantai penularan yang tidak terputus. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium\ leprae, yang menyerang saraf tepi, kulit, dan saluran pernapasan atas. Bakteri ini unik karena memiliki masa inkubasi yang sangat lama—bisa memakan waktu 5 hingga 20 tahun—sehingga seseorang yang tertular mungkin tidak menyadarinya selama bertahun-tahun sambil terus berisiko menularkan kepada orang lain melalui kontak erat yang lama atau melalui percikan cairan pernapasan (droplet).

Mengapa Penularan Masih Terus Terjadi?

Ada beberapa faktor utama yang diidentifikasi oleh pakar UGM sebagai penghambat eliminasi kusta di Indonesia:

1. Deteksi Dini yang Terlambat: Banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan setelah mengalami cacat permanen. Kusta sering kali dimulai dengan gejala ringan yang mirip dengan penyakit kulit biasa, seperti bercak putih atau kemerahan yang tidak gatal. Perbedaan vitalnya adalah bercak kusta biasanya disertai dengan kondisi mati rasa (anestesi).

2. Stigma Sosial yang Masih Kental: Stigma negatif terhadap penderita kusta membuat banyak orang merasa malu atau takut untuk memeriksakan diri. Mereka cenderung menyembunyikan gejala awal, yang secara tidak sengaja justru memperluas jangkauan penularan di lingkungan keluarga atau tempat tinggal mereka.

3. Keterbatasan Pengetahuan Masyarakat: Masih banyak masyarakat yang mengaitkan kusta dengan kutukan atau penyakit keturunan, padahal secara medis kusta adalah penyakit infeksi bakteri murni yang dapat disembuhkan sepenuhnya.

Dampak Penundaan Pengobatan

Kusta yang tidak segera diobati dengan regimen Multi-Drug Therapy (MDT) dapat menyebabkan kerusakan saraf yang ireversibel. Kerusakan ini berujung pada kelumpuhan otot, kontraktur jari-jari (jari menekuk dan kaku), hingga luka kronis yang sulit sembuh karena hilangnya rasa sakit. Guru Besar UGM menekankan bahwa kusta bukan sekadar masalah kulit, melainkan masalah saraf yang jika diabaikan akan menurunkan kualitas hidup dan produktivitas penderitanya secara permanen.

Langkah Strategis Menuju Eliminasi

Untuk memutus rantai penularan, diperlukan kerja sama lintas sektor. Pemerintah dan masyarakat perlu meningkatkan upaya pencarian kasus secara aktif (active case finding), bukan sekadar menunggu pasien datang. Edukasi masif harus terus dilakukan untuk mengubah stigma menjadi dukungan sosial. Pihak UGM mendorong agar pemeriksaan rutin dilakukan di daerah-daerah kantong kusta, terutama pada kontak erat pasien (anggota keluarga satu rumah).

Dengan pengobatan MDT yang tersedia secara gratis di Puskesmas, kusta sebenarnya sangat mungkin untuk dikendalikan. Namun, kunci utamanya tetap pada kecepatan diagnosis sebelum terjadi komplikasi fisik yang berat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Exit mobile version