Connect with us

Education

Peringatan bagi Calon Siswa SMK Mengenai Jurusan yang Mulai Ditinggalkan Dunia Usaha

Published

on

Semarang (usmnews) – Dikutip dari kompas.com Bagi siswa kelas 9, keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sering kali didasari oleh keinginan pragmatis untuk segera terjun ke dunia kerja. SMK menawarkan nilai jual utama berupa penguasaan keahlian praktis, kurikulum berbasis industri, serta pengalaman nyata melalui program magang (Praktik Kerja Lapangan).

‎Harapannya, lulusan SMK dapat memiliki keterampilan spesifik yang mempercepat karier atau membuka peluang wirausaha, tanpa menutup kemungkinan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Namun, dinamika pasar kerja yang berubah sangat cepat menuntut adanya evaluasi ulang terhadap pilihan-pilihan jurusan yang tersedia.

‎Jurusan yang Terancam Usang di 2026

‎Menjelang tahun 2026, relevansi beberapa jurusan di SMK mulai dipertanyakan secara serius. Perubahan struktur ekonomi global, percepatan otomatisasi, dan dominasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mengubah peta kebutuhan tenaga kerja. Banyak kompetensi yang dulunya menjadi andalan siswa SMK kini dinilai tidak lagi kompetitif.

‎Masalah utamanya sering kali bukan karena ilmunya yang hilang, melainkan terjadinya tumpang tindih kompetensi dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

‎Darmaningtyas, seorang pengamat pendidikan dari Perguruan Taman Siswa, menyoroti fenomena ini dengan tajam. Ia mengidentifikasi tiga jurusan SMK yang diprediksi akan kehilangan relevansinya secara signifikan mulai tahun 2026, yaitu:

  1. Administrasi Perkantoran
  2. Manajemen
  3. Akuntansi

‎Ketidakrelevanan ini muncul bukan karena bidang tersebut hilang, melainkan karena persaingan yang tidak seimbang. Kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor administratif dan manajerial kini lebih banyak diisi oleh lulusan Politeknik (Diploma) atau Sarjana (S1). Lulusan SMK dengan bekal kompetensi dasar akan sangat sulit bersaing dengan lulusan perguruan tinggi yang memiliki pendalaman materi lebih komprehensif. Jika siswa SMK mengambil jurusan ini namun tidak melanjutkan kuliah, pendidikan mereka berisiko menjadi sia-sia karena sulit terserap pasar kerja.

‎Paradoks Sektor Agro: Dibutuhkan Namun Kurang Diminati

‎Di sisi lain, terdapat ironi dalam dunia pendidikan vokasi. Sektor agro yang mencakup pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kelautan sebenarnya memiliki tingkat relevansi dan kebutuhan yang sangat tinggi untuk masa depan. Namun, jurusan-jurusan ini sering kali sepi peminat. Masalahnya bukan pada ketersediaan lapangan kerja, melainkan minimnya penghargaan sosial dan persepsi bahwa prospek ekonomi di sektor ini kurang menjanjikan dibandingkan sektor perkantoran.

‎Padahal, pengenalan bidang agro sejak tingkat SMK sangat krusial sebagai fondasi awal sebelum siswa memperdalam keahlian mereka di tingkat perguruan tinggi.

‎Redefinisi Tujuan Pendidikan

‎Lebih jauh lagi, diskusi mengenai relevansi jurusan juga merambah ke tingkat pendidikan tinggi. Darmaningtyas menekankan bahwa konsep “relevansi” sangat bergantung pada tujuan akhir pendidikan itu sendiri.

‎Pendidikan sebagai Pencetak Pekerja: Jika kuliah semata-mata dianggap sebagai jalan pintas mencari kerja, maka jurusan sosial dan humaniora sering kali dianggap “tidak relevan” karena jalur kariernya tidak linear atau pasti.

‎Pendidikan sebagai Pengembangan Pola Pikir: Sebaliknya, jika pendidikan dimaknai sebagai proses pembentukan nalar kritis, analitis, dan reflektif, maka seluruh jurusan termasuk ilmu sosial dan humaniora akan selalu relevan sepanjang masa. Kemampuan berpikir inilah yang justru menjadi modal utama untuk beradaptasi dengan perubahan zaman yang tidak terduga.

‎Kesimpulannya, menghadapi tahun 2026 dan seterusnya, baik calon siswa maupun pemangku kebijakan pendidikan harus lebih jeli. Diperlukan penyesuaian kurikulum yang radikal agar pendidikan vokasi tidak hanya mencetak lulusan, tetapi memastikan lulusan tersebut memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dan dihargai oleh industri masa depan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *